Kamis, 31 Mei 2012

fase kehidupan : Mengundurkan Diri sebagai MPA.

Apa yang terjadi didalam hidup adalah pilihan. Tak hanya pilihan kita, tapi juga pilihan Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui semua hal terbaik untuk kita. Jangan takut untuk memilih jika niat kita baik.Jika pilihan kita Hari ini membuat kita kehilangan, insya'Allah hari mendatang kita akan diberi dengan jumlah + kualitas yang berlipat.

"pilihlah" dan bertawakkal..

Jumat, 18 Mei 2012

FORMALITAS GERAKAN

Aktivis oh aktivis..
semakin menjauhi hari pertama saya ngampus, semakin banyak saya bertemu berbagai tipe aktivis. Baik yang benar-benar aktivis, atau yang menganggap dirinya aktivis karena aktif di berbagai kegiatan. Well, yang kedua belum tentu aktivis. Aktivis itu bukan babu gerakan, bukan panitia seumur hidup, bukan buat proposal-kasih ke dekanat-mengerjakan-selesai, bukan itu inti aktivitas ekstrakulikuler yang dilakukan mahasiswa. Aktivis selalu dapat mengidentifikasi "jiwa" dari aktivitas tersebut.

Sayangnya, banyak hal yang menutupi proses identifikasi "jiwa" itu. Salah satu yang paling sering adalah formalitas gerakan. Banyak punggawa-punggawa BEM terkukung oleh formalitas ini. Ironisnya, mereka tidak tahu bahwa lawan mereka sebenarnya adalah "formalitas gerakan". Tahu lawan saja tidak, bagaimana mungkin menang. Saya sangat iri mendengar cerita dosen-dosen saya tentang gerakan mereka tempo dulu sangatlah bebas, mahasiswa dan dosen bagai teman, ide mahasiswa selama tidak melanggar etika dan hukum selalu didukung (entah darimana sumber dananya), antar angkatan sangat dekat bagai kakak dan adik, setiap acara yang diadakan menggoreskan kenangan indah di memori, dan semua acara serasa bertujuan. Mereka mendapatkannya karena gerakan yang dilakukan tidaklah seformal sekarang, internal BEM saja kadang tidak saling dukung. Bagaimana menyatukan satu fakultas? apakah hal ini terjadi di kampus anda? bisa saja..

karena itu, saat ini kita perlu "informalitas gerakan" untuk merefresh semua yang ada. Kadang hal-hal sepele tapi penuh makna muncul dari kegiatan informal ini. Ingat, informalitas gerakan bukan artinya gerakan sembarangan, tetapi metodenya yang informal. Jadi tetap saja harus terstruktur. Contoh simple, untuk melakukan kaderisasi kadang sebuah bidang PSDM harus melakukan seminar yang memakan waktu berbulan bulan. Padahal dalam seminar, yang diserap peserta hanya sedikit karena seseorang hanya bisa fokus terus menerus hanya 2 jam saja, sedangkan seminar dari jam 8.00-16.00. Kenapa tidak menyiapkannya dalam waktu 1 minggu. Misalkan, menghubungi ketua kaderisasi yang lama dan meminta izin untuk berkunjung bersama teman-teman BEM ke kosan/ rumah beliau di hari libur. Jangan lupa ingatkan beliau untuk memberi sedikit materi dan BANYAK pengalaman kepada kawan-kawan kita. Mungkin hasil yang didapatkan berbeda dari seminar. Menurut anda, manakah yang lebih efisien? Sebuah formalitas atau informalitas gerakan?

Tentu prinsipnya "dima bumi dipijak, sinan langit dijunjuang". Kita harus mampu untuk melihat sikon. Kadang kita harus bersikap formal, tapi kalau banyak hal dengan cara informal bisa lebih efektif, why not? Toh kita kan MAHASISWA... agent of change!


Minggu, 06 Mei 2012

Terlalu Banyak Hambatan Klasik di MPA ISMKI

Sebagai ketua, rasanya agak tabu membeberkan kekurangan organisasi/ himpunan yang diketuai. Tapi kali ini tidak bagi saya. Semua harus kita awali dengan kejujuran dan introspeksi. Jangan takut untuk dinilai salah oleh orang ketika kita benar-benar salah. Sapa tau nantinya kita malah mendapat inspirasi untuk berubah. Mumpung saya lagi ada sedikit waktu senggang, saya ulas tentang beberapa kelemahan MPA ISMKI saat ini (sebenarnya kelemahan dalam 1 bulan belakangan).

Sejak bulan desember, saat ini memasuki bulan keenam amanah kami sebagai MPA ISMKI. Amanah yang berat karena amanah ini diwariskan tanpa warisan. Bahkan program kerjapun tak ada. Sekarang, alhamdulillah telah terdapat beberapa kejelasan. Dalam 4 bulan pertama, semua baik-baik saja. Rasanya ada 10 kali kami melakukan Net Meeting. Memasuki bulan kelima, semua menjadi berantakan lagi... lagi dan lagi... masalahnya hampir sama, masalah klasik yaitu kesibukan dari masing-masing MPA. Maklum, MPA ini berasal dari kalangan yang sudah sepuh. Campuran sejawat angkatan 2008 dan 2007. Jadi agak sulit mengatur waktunya walaupun hanya 4 orang.
berpose di depan kantor gubernur Jambi

Dapat dibilang ini juga kesalahan saya, 8 minggu yang lalu saya baru masuk koass alias dokter muda. Membutuhkan adaptasi yang luar biasa. 3 minggu yang lalu saya pergi ke jambi untuk koass di RS Jiwa Jambi selama 2 minggu, disana tidak ada sinyal modem smart. So, saya benar-benar hilang dari peredaran dunia maya. 3 minggu belakangan tidak ada NM sama sekali. Rencananya tadi malam mau mengadakan NM, tetapi beberapa MPA tidak mengonfirmasi dan ada yang berhalangan. Jadi, NM dibatalkan. Again. Sebelumnya juga banyak kejadian yang menghambat komunikasi kami ber4, sinyal internet. Ada juga beberapa kondisi seperti sakit, sehingga MPA tidak mungkin kan dipaksa ikutan NM. Bahkan beberapa tugas MPA yang seharunya sesuai deadline menjadi molor. Termasuk NM MPA dan BAPIN, hingga saat ini belum dapat dilaksanakan. Alhamdulillah NM MPA-WILAYAH, MPA BPN, dan MPA PHN sudah terlaksana. 

Ingin rasanya direct meeting (DM), akan tetapi dari segi perizinan sangat tidak memungkinkan. Padahal pembahasan kita tentang rekomendasi ketika rakornas masih tersisa. Semakin hari rakornas juga semakin dekat. Untung salah satu MPA berada di Bandung dan mudah-mudahan bisa mewakili kami yang tidak dapat berangkat rakornas. Jujur, menjalankan amanah sebagai seorang organisator bersamaan dengan koass merupakan sesuatu yang sulit. Mungkin inilah yang terjadi pada generasi beberapa tahun sebelumnya.

Sekarang bukan saatnya lagi menggerutu. Yang ada di pikiran saya hanyalah satu. Bagaimana mengefektifkan semua fungsi MPA?? mengingat kita masih punya sisa waktu 7 bulan ke depan untuk merubah apa saja yang perlu diubah. Saya juga sangat yakin dengan kemampuan ketiga orang MPA lainnya. Mereka adalah generasi-generasi yang berkualitas, contohnya Mega, dulunya adalah PH PSDM Nas ISMKI, mas Aldi dulu menjabat koord KIK Nas ISMKI selama 2 periode, dan Arya Giri adalah seorang ketua BEM dan duta kesehatan bali. Mereka orang-orang yang luar biasa. Karena itu saya optimis bahwa kejadian 1 bulan terakhir tidak akan terulang kembali.

Insya'Allah setelah rakornas, akan ada sedikit perubahan teknis kerja di lapangan. Hal ini akan di diskusikan setelah rakornas. Insya'Allah hari rabu malam, 9 mei 2012 kami NM untuk membahas rekomendasi MPA.

Sebagai info tambahan: dulu, sebelum saya jadi MPA, salah satu keinginan saya adalah merubah paradigma DPM FK di Indonesia. DPM dan BEM itu harus dalam satu payung. Karena di beberapa universitas, kadang DPM dan BEM seringkali kurang harmonis. Diharapkan dengan adanya sebuah pelatihan, yang namanya "temu legislatif" kerja DPM dan BEM sinergis. Tapi karena MPA ini ga pernah punya fungsi EO dan tenderisasi gimana cara mengadakannya?? ternyata Allah berkehendak lain. Alhamdulillah melalui beberapa kali perbincangan yang awalnya hanya via facebook, Insya'Allah pihak DPM FK Unsri bersedia menjadi tuan rumah "temu legislatif" tersebut. Mudah-mudahan memang benar-benar terwujud ya. aamiin.



Sabtu, 05 Mei 2012

Tak Perlu Menunggu Tua untuk Melakukan Hal Besar

Mahasiswa selalu identik dengan kegiatan kampus, baik akademik maupun non akademik. Untuk urusan akademik seorang mahasiswa sibuk ya sebuah keniscayaan. Sedangkan untuk urusan non akademik, mahasiswa- apalagi mahasiswa kedokteran- sibuk merupakan pemandangan dalam kategori kadang biasa saja, bahkan menjadi luar biasa. Kegiatan non-akademik sangat banyak tipenya, hal inilah yang mendorong terciptanya badan (semi)otonom yang menampung minat dari mahasiswa.

Minat mahasiswa pun sangat beragam, selama saya kuliah hampir 4 tahun, saya banyak menemui beragam prestasi yg timbul karena diiringi minat yang besar. Akan tetapi, jarang yang saya temui orang dengan minat dan kemampuan yang merata disetiap bidang. Contohnya tidak susah, seperti saya, dari segi minat saya memang lebih suka tulis menulis. Minat di bidang lain memang ada contohnya di bidang olahraga, akan tetapi hanya sebatas penonton-kadang pun tidak sempat menonton walau ingin. Sangat wajar bagi saya bila tak menorehkan prestasi di bidang tersebut. Dan rasanya sayapun tidak bisa dipaksa untuk memiliki minat secara instan terhadap olahraga. Begitupun sebaliknya, bila orang lain yang suka olahraga dipaksa untuk ikut karya tulis, jangankan prestasi-minat pun belum tentu.  empat tahun saya disini, saya banyak belajar bahwa setiap diri manusia itu unik. KeUNIKAn itulah yang mewarnai hidup kita, karena itu jangan pernah paksa seseorang mengikuti apa yang menurut kita benar. Tugas kita tidak pernah dituntut hingga taraf "memaksa". Karena yang benar menurut kita, belum tentu benar dimata orang lain. Ingatlah, Jika anda masih ingin memaksa, paksalah diri anda untuk "membuka pikiran". =D

Seperti yang saya katakan sebelumnya, sangat unik!! pada semester 1-4 minat-minat kami para mahasiswa tersalur langsung ke badan yang ada di fakultas mengingat saat semester 3-4 adalah masa menjadi pengurus. Akan tetapi setelah memasuki semester 5-6-7, kami pensiun. Akan tetapi minat yang dimiliki mahasiswa bukannya mengendor, malah elasi. Kenyataan yang ada, minat mereka malah semakin unik, kadang saya tersenyum melihat ekspresi minat sejawat di kelas. Bisa anda bayangkan suasana pasar yang heboh dengan jualan?? bayangkan itu terjadi di kelas kami saat jam istirahat/ tidak ada dosen. SERU pokoknya. Apa saja bisa di jual dari pena, beng-beng, keripik, tempe, baju, parfum, alat kesehatan, buku, bros, jilbab, rok, pulsa, dll. Ada yang bilang fenomena ini muncul karena "profesi dokter kurang menjanjikan". "Makanya pada dagang semua". Tentu itu hanya gurauan saja. ^__^ Tak ketinggalan, sayapun sebagai teman yang baik tentu ikut serta dalam meramaikan dunia pemasaran. Banyak loh yang saya jual, buku, keripik, alat kesehatan, dan micromotor. Sampai-sampai saya jadi bahan candaan teman-teman karena jualan terus. Hehehe. 

Berdagang dan Minat berdagang itu bagi sebagian kecil mahasiswa dibutuhkan (termasuk saya), bagi sebagian sedang mahasiswa menganggapnya hanya buang-buang waktu (karena itu mahasiswa adalah pasar potensial), dan bagi sebagian besar orangtua hal ini menjadi suatu kegiatan yang harus dihindari oleh anaknya. Sayapun tak luput dari ketakutan seperti ini, kenapa? intinya nasihat oangtua sangat baik. Orangtua saya berpesan sangat singkat, "lihatlah beberapa contoh yang ada saat ini, banyak mahasiswa yang kerja sambil nyari duit dengan tujuan awal yang luhur. Akan tetapi ketika seseorang sudah dapat menghasilkan uang, biasanya akan ketagihan dan kuliahnya keteteran. Alhasil, kuliah hancur..jadi orang kaya lewat bisnis juga urung". Awalnya sayapun kurang percaya, hingga melihat dengan mata kepala sendiri nasib beberapa orang yang seperti itu. Lebih sibuk nyari duit daripada menyelesaikan studinya. 

Walau telah jelas ultimatum yang diberikan kedua orangtua, minat pada dunia dagang (istilah kerennya bisnis kali ye) membuat saya menemukan prinsip terpenting bagi mahasiswa yang memiliki minat serupa. "Kalau mau berbisnis / cari duit selama sekolah boleh-boleh saja, asalkan jangan mengganggu prestasi belajar". Saya tulis prestasi belajar, bukan waktu belajar. Karena waktu belajar pasti terganggu bila kita memulai bisnis. Hal terpenting bagaimana kita memanfaatkan waktu yang ada secara maksimal. Kalau ga bisa menerapkan prinsip ini, sepertinya tunda saja dulu niat anda untuk berbisnis.Setelah meyakinkan orangtua, sayapun mengantongi SIB (surat izin berbisnis).

Akhirnya saya memulai dagang dari hal-hal kecil, yang umum dilakukan mahasiswa. Selama proses itu, kurang lebih bulan januari 2010 saya memikirkan bentuk bisnis yang lain, yaitu fotokopian. Sayang, sepertinya bisnis seperti itu agak mustahil dilakukan. Kala itu saya hanya berpikir bahwa untuk memulai bisnis seperti itu membutuhkan modal yang besar, modal yang besar hanya mampu saya dapatkan kalau saya sudah kerja, dan artinya saya harus menunda keinginan ini hingga saya tamat dan bekerja. sekitar tahun 2015 (5 tahun setelahnya). Jangan-jangan nanti ga semangat atau ga sempat lagi bisnis hal seperti itu. 

Melalui berbagai proses, akhirnya saya dan teman seribu situasi alias si Rahman Setiawan "nekat" mencari modal membangun fotokopian. Saya sempat seperti orang aneh loh, bayangkan aja. Saya kira bisa bangun fotokopian dengan modal 3 juta. Ternyata ga bisa ya. hahaha.. (saya juga baru tahu). Banyak yang ga percaya, hingga akhirnya RF Fotokopi buka dan berlokasi di area dinas kesehatan provinsi sumsel setelah 2 tahun 2 bulan sejak ide buka fotokopian muncul (hemat umur 3 tahun). Banyak pengalaman senang dan sedih dalam mengumpulkan modalpun kami alami. Pernah kami kekurangan modal, dan masing-masing mendapat tugas untuk mencari tambahan modal tersebut. Saya yang kebingungan sempat menelfon keluarga yang segi ekonomisnya lebih baik dari keluarga saya, saya tahu mereka orang baik dan dengan menahan malu sayapun mencoba menyampaikan niat saya untuk meminjam uang. Jawabannya singkat: nanti dicek dulu dan dikabari lagi. Ternyata sampai sekarang pun tak pernah lagi ada pembahasan soal hal itu. Sayapun malu untuk menanyakannya. Alhasil saya cuma meminjam modal sama orangtua saja. Ini benar-benar meminjam kawan!! bukan ngomong "pinjam" terus ga mengembalikan karena menganggap uang orangtua juga. Sekarang, walaupun sempat ada pegawai yang bermasalah dan ganti pegawai, alhamdulillah fotokopian kami sudah berjalan 2 bulan dan menurut pendapat sebagian orang keuntungannya lebih dari cukup dengan standar kami yang hanya mahasiswa. Tapi bagi saya pribadi, masih kurang. hehe. Karena saya tahu, masih ada hal besar lain yang dapat saya lakukan. Dan saya tak perlu menunggu tua untuk melakukan hal besar tersebut.

Saya sangat bersyukur dibukakan pikiran oleh Allah SWT berpikir seperti itu, karena tak sedikit manusia dengan tipikal menunggu saat yang tepat "saja", menunggu mapan untuk melakukan kebaikan, menunggu kaya untuk memulai bisnis, pokoknya judulnya "MENUNGGU". Padahal banyak "saat yang tepat" datang pada kita dan kita tak menyadarinya. Akankah menunggu lagi membuat kita menyadarinya? jangan-jangan kita melewatkannya lagi. Hal ini lah yang saya coba tularkan kepada orang-orang sekitar saya. Kebetulan kami memiliki perkumpulan yang fokus menyeimbangkan prestasi, organisasi, dan akademis (intinya kaderisasi). Adik-adik asuh saya di GALAU ada 23 orang, mereka menjadi panitia inti untuk try out terbesar yang panitianya adalah mahasiswa. Bayangkan saja, mereka baru 8 bulan jadi mahasiswa dan disuruh menghandle try out dari BSMI (bulan sabut merah Indonesia) + GALAU dan hasilnya luar biasa. 1200 peserta ikut serta dalam kegiatan ini, padahal target awalnya 1000. 



Dibanyak univ, mungkin kegiatan seperti ini hanya boleh dilakukan oleh mahasiswa semester 5 ke atas. Mengingat kegiatannya yang besar dan butuh pengalaman, kalau angkatan semester 2 mah masih bau kencur jadi kemungkinan sukses itu kecil. Karena itu, saya sangat bangga menjadi saksi hidup runtuhnya paradigma kolot seperti itu. Tujuan saya menyuruh mereka menjadi panitia simple, daripada mereka menjadi panitia kecil2an berkali-kali dalam setahun lalu akhirnya bosan. Cukuplah mereka menjadi panitia acara besar sekali dalam satu tahun. Tentu berbeda hasilnya. Disana mereka belajar optimisme, manajemen konflik, branding, menciptakan jejaring, team building, mengejar target.dll. Mereka balajar semua itu tanpa melalui teori yang kadang menjadi beban, tapi merekalah teori itu sendiri. Inilah bentuk sesungguhnya dari "belajar sambil bermain" yang kita pelajari sejak SD. Kalaupun nanti mereka mendapat pelatihan yang lebih teoritis tentang pelajaran itu, saya yakin mereka lebih mampu menyerap dibandingkan mahasiswa yang lain. Tentu mereka hemat waktu 3 semester (semester 5-semester 2). Kesimpulannya, insya'Allah tujuan saya tercapai. Malah 2 hari lalu ada yang bilang ma saya, "kak, ayo kita buat acara lagi". hehehhe.

Hal lucu lainnya, alih-alih menularkan paradigma baru pada adik-adik saya, saya malah jadi lebih optimis untuk melakukan semua hal se"muda" mungkin. Banyak target yang ingin saya capai dalam 4 tahun ke depan. Sekolah, beli mobil pakai uang sendiri, lolos paper untuk WCC, buat buku, penelitian, mengembangkan bisnis, dll. Kalau anda mau tertawa silakan. Banyak kok yang menertawakan target-target saya sebelumnya. Toh, sukses saat muda tetap saja lebih keren ketimbang suskses saat tua. Biarlah orang lain menertawakan diawal dan saya menangis, tapi akhirnya saya ikut tertawa juga. =D

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by phii | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code