Kastrat- Dari Diri Sejak Dini
kastrat itu ibarat angin segar yg menggugurkan daun daun tua, bukan karna membencinya, tapi karena itulah saatnya gugur...demi mengusung momentum daun muda untuk tumbuh...agar tujuan yg lebih penting, mempertahankan kehidupan si pohon, dapat terlaksana- Franz Sinatra Yoga.
Antara Hipotesis Gaia, Al-Qur'an, dan Inversi Suhu
Apakah yang dimaksud dengan Hipotesis Gaia? Dinamai menurut Dewi Bumi bangsa Yunani kuno, teori ini menggambarkan planet kita sebagai sebuah sistem yang hidup, bernafas dan sebagai satu kesatuan yang memiliki aturan sendiri..
Minggu, 13 November 2011
Kontribusi itu tak LEKANG oleh Jarak, Waktu, Umur, dan Kesibukan Pribadi.
Saat yang tepat untuk melihat kesungguhan "semangat kontribusi" bukanlah ketika semua pengurus nasional/ wilayah berkumpul, tetapi saat semua pengurus berpisah dan kembali ke institusi.
Jumat, 11 November 2011
HAUS = SUKSES
saya haus bisnis, saya haus prestasi Ilmiah, saya haus akademik, saya haus organisasi. saya haus bangeeeeet...
saya akan tetap haus dan haus...
.
Layaknya meminum air. selalu diminum, selalu dikeluarkan lewat berkemih. Setiap mililiter yang diminum mengalami proses transformasi dari AIR MINUM ---> URINE dalam proses ini terdapat manfaat luar biasa bagi tubuh. anda bisa bayangkan kalau anda tidak minum. anda akan kekurangan cairan. bahkan SYOK DEHIDRASI.
karena itu, bersyukurlah. dan terusslah HAUS.
saya akan tetap haus dan haus...
.
Layaknya meminum air. selalu diminum, selalu dikeluarkan lewat berkemih. Setiap mililiter yang diminum mengalami proses transformasi dari AIR MINUM ---> URINE dalam proses ini terdapat manfaat luar biasa bagi tubuh. anda bisa bayangkan kalau anda tidak minum. anda akan kekurangan cairan. bahkan SYOK DEHIDRASI.
karena itu, bersyukurlah. dan terusslah HAUS.
anda tidak akan pernah merasakan nikmatnya minum bila tak pernah seperti di bawah ini...!!
Kisah Saputra, Loper Koran dari Palembang yang Jadi Juara di Markas Milan
Jakarta - Prestasi memang tidak memandang apakah seseorang berasal dari keluarga kaya atau miskin. Saputra (14), seorang remaja yang sehari-harinya menyambi sebagai loper koran, lolos seleksi tim Indonesian All Star. Bersama rekan-rekan satu tim, ia berhasil mempertahankan gelar juara Intesa Sanpaolo Cup 2011.
Saputra dkk. menggondol piala Intesa Sanpaolo Cup 2011 yang digelar oleh klub termasyur di Italia, AC Milan. Intesa Sanpaolo Cup sendiri merupakan turnamen tahunan yang menyedot perhatian di Milan Junior Camp Day. Di final 5 November lalu, para remaja asuhan pelatih Bambang Waskito itu menundukkan tim gabungan Venezuela-Brasil dengan skor 2-0.
Sementara dalam ujicoba dengan para pemain junior AC Milan Soccer Academy yang dihelat setelah kejuaraan selesai, tim Indonesian All Star juga menang 3-2. Tim Indonesian All Star merupakan tim pertama yang mengalahkan tim junior AC Milan yang dilatih dengan ketat.
Saputra pun merasa bangga bisa mempersembahkan hasil tersebut. Stiker tim Indonesian All Star ini menceritakan, kekompakan tim menjadi faktor penentu kemenangan. Selain kompak, timnya mempunyai semangat yang luar biasa sehingga mampu menggunguli 25 negara peserta turnamen sepak bola lainnya.
"Tim Indonesia sangat kompak dan terus banyak sekali motivasi. Kalau mau pas di lapangan semangat semua," kata Saputra, yang ditemui di sela-sela pertemuan tim Indonesian All Star dengan Wakil Presiden Boediono di Kantor Wapres, Jakarta Selatan, Kamis (10/11/2011).
Saputra adalah remaja kelahiran Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), 6 November 1997. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sejak kelas empat SD, Saputra sudah harus bekerja membantu orangtuanya yang beralamat di Jl Bendungan Lrg, Rawa Laut RT 03 RW 01 No 180/199, Palembang.
Untuk membantu perekonomian keluarga, remaja berambut cepak ini tak sungkan menjadi loper koran. Saban pagi, sebelum berangkat ke sekolah, ia menyetor koran ke lapak-lapak dan pelanggan. Setiap hari, uang Rp 15-20 ribu dikantonginya dari berjualan koran. Uang hasil jerih payahnya itu sebagian ia pergunakan untuk jajan dan sebagian lagi diberikan kepada ibunya yang cuma buruh cuci rumah tangga.
"Dari kelas 4 SD sampai kelas 3 SMP. Tapi kelas 3 ini sekolah pagi, jadi cukup untuk langganan bulanan atau di tempat sekolah. Guru-guru kadang beli sama aku," ucap Saputra.
Sebagaimana anak seusianya di Palembang, Saputra juga gemar olah raga sepakbola. Ia mulai menenekuni sepakbola sejak usia 5 tahun. Beranjak sedikit dari umur belianya tersebut, ia masuk ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Sportivitas di Palembang. Sayang, gara-gara tidak punya uang, Saputra tidak bisa meneruskan latihan di SSB tersebut.
Pada prosesnya, kenang Saputra, ia memperoleh beasiswa sekolah sepak bola dari PT Pusri. Selama 3 tahun ini, ia giat berlatih di Pusri tiga kali seminggu. Namun, di tengah kesibukan untuk latihan rutin Saputra tetap melakukan pekerjaannya sebagai loper koran. Bahkan, dari aktivitasnya sebagai loper koran tersebut ia mengenal banyak pemain Sriwijaya FC dari dekat.
"Aku kebetulan jualan koran juga di mess-nya. Jualan koran. Ya, masih sampai sekarang. Biasa kamar Arif Suyono, Supardi Nasir, Firman utina. Jualan koran pagi, tapi kadang nunggu pemain selesai bangun tidur itu lama. Jadi, ya, sudah kumasukin di bawah pintu, siang baru ambil uangnya," tutur Saputra.
Ke Italia
Saputra tentu ingin meraih meraih prestasi seperti para pemain favoritnya di Sriwijaya FC tersebut. Kesempatan itu pun akhirnya tiba. Tanggal 29 Oktober 2011 lalu, ia mendengar ada penyaringan pemain untuk Indonesian All Star yang akan berlaga di Italia. Bersama temannya, Saputra pun mengikuti seleksi tersebut.
Dengan bekal uang pinjaman Rp 2.000, ia berangkat ke lokasi seleksi di Palembang. Uang itu dibelikan pempek untuk sarapan. Saputra berhasil lolos masuk 250 besar di seleksi pertama. Dan, pada hari berikutnya, tanggal 29 Oktober ia terpilih dalam 60 besar untuk menjalani seleksi di Bali.
"Seterusnya tanggal 29 hari Minggu nggak ada uang, sarapan mie saja sama teh. Udah pas itu saya bangga setelah sore-sore terpilih bisa seleksi 60 di bali. Orangtuaku bangga sekali," ucap Saputra.
Karena berteman akrab dengan pemain Sriwijaya FC, Saputra pun menelepon Supardi untuk mengabarkan keberhasilannya menembus 60 besar. "Pas mau ke Bali itu aku telepon Bang Supardi. 'Bang aku lolos. Ada nggak saran buat aku biar nggak cepet puas.' Dari situ aku ada rasa bangga sama dia," kata Saputra.
Di Bali, Saputra kian memuluskan langkah ke Jakarta. Dalam seleksi di Jakarta, ia berhasil masuk ke 18 besar tim yang diberangkatkan ke Italia atas dukungan PT Pertamina (Persero). Menurut Saputra, resepnya untuk berhasil adalah tidak pernah menyerah atau pasrah kepada keadaan.
"Pokoknya jangan nyerah deh. Ekonomi itu bukan segalanya hal untuk meraih mimpi atau prestasi. Berani untuk bermimpi dan jangan pernah takut. Semua itu pasti ada jalan," kata Saputra bijak.
Mengenai rencana masa depan, Saputra mengaku ingin menjadi pemain sepakbola nasional yang handal. Sedangkan dalam waktu dekat ini, ia akan kembali ke Palembang untuk bersekolah dan berlatih lagi di Pusri. Tetap jualan koran?
"Masih-lah. Dari mana aku bisa jajan sekolah sama buat kasih orang tua?" katanya sambil tersenyum.
sumber: http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2011/11/11/014947/1765041/76/kisah-saputra-loper-koran-yang-jadi-juara-di-markas-milan?b991101mainnews
Saputra dkk. menggondol piala Intesa Sanpaolo Cup 2011 yang digelar oleh klub termasyur di Italia, AC Milan. Intesa Sanpaolo Cup sendiri merupakan turnamen tahunan yang menyedot perhatian di Milan Junior Camp Day. Di final 5 November lalu, para remaja asuhan pelatih Bambang Waskito itu menundukkan tim gabungan Venezuela-Brasil dengan skor 2-0.
Sementara dalam ujicoba dengan para pemain junior AC Milan Soccer Academy yang dihelat setelah kejuaraan selesai, tim Indonesian All Star juga menang 3-2. Tim Indonesian All Star merupakan tim pertama yang mengalahkan tim junior AC Milan yang dilatih dengan ketat.
Saputra pun merasa bangga bisa mempersembahkan hasil tersebut. Stiker tim Indonesian All Star ini menceritakan, kekompakan tim menjadi faktor penentu kemenangan. Selain kompak, timnya mempunyai semangat yang luar biasa sehingga mampu menggunguli 25 negara peserta turnamen sepak bola lainnya.
"Tim Indonesia sangat kompak dan terus banyak sekali motivasi. Kalau mau pas di lapangan semangat semua," kata Saputra, yang ditemui di sela-sela pertemuan tim Indonesian All Star dengan Wakil Presiden Boediono di Kantor Wapres, Jakarta Selatan, Kamis (10/11/2011).
Saputra adalah remaja kelahiran Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), 6 November 1997. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sejak kelas empat SD, Saputra sudah harus bekerja membantu orangtuanya yang beralamat di Jl Bendungan Lrg, Rawa Laut RT 03 RW 01 No 180/199, Palembang.
Untuk membantu perekonomian keluarga, remaja berambut cepak ini tak sungkan menjadi loper koran. Saban pagi, sebelum berangkat ke sekolah, ia menyetor koran ke lapak-lapak dan pelanggan. Setiap hari, uang Rp 15-20 ribu dikantonginya dari berjualan koran. Uang hasil jerih payahnya itu sebagian ia pergunakan untuk jajan dan sebagian lagi diberikan kepada ibunya yang cuma buruh cuci rumah tangga.
"Dari kelas 4 SD sampai kelas 3 SMP. Tapi kelas 3 ini sekolah pagi, jadi cukup untuk langganan bulanan atau di tempat sekolah. Guru-guru kadang beli sama aku," ucap Saputra.
Sebagaimana anak seusianya di Palembang, Saputra juga gemar olah raga sepakbola. Ia mulai menenekuni sepakbola sejak usia 5 tahun. Beranjak sedikit dari umur belianya tersebut, ia masuk ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Sportivitas di Palembang. Sayang, gara-gara tidak punya uang, Saputra tidak bisa meneruskan latihan di SSB tersebut.
Pada prosesnya, kenang Saputra, ia memperoleh beasiswa sekolah sepak bola dari PT Pusri. Selama 3 tahun ini, ia giat berlatih di Pusri tiga kali seminggu. Namun, di tengah kesibukan untuk latihan rutin Saputra tetap melakukan pekerjaannya sebagai loper koran. Bahkan, dari aktivitasnya sebagai loper koran tersebut ia mengenal banyak pemain Sriwijaya FC dari dekat.
"Aku kebetulan jualan koran juga di mess-nya. Jualan koran. Ya, masih sampai sekarang. Biasa kamar Arif Suyono, Supardi Nasir, Firman utina. Jualan koran pagi, tapi kadang nunggu pemain selesai bangun tidur itu lama. Jadi, ya, sudah kumasukin di bawah pintu, siang baru ambil uangnya," tutur Saputra.
Ke Italia
Saputra tentu ingin meraih meraih prestasi seperti para pemain favoritnya di Sriwijaya FC tersebut. Kesempatan itu pun akhirnya tiba. Tanggal 29 Oktober 2011 lalu, ia mendengar ada penyaringan pemain untuk Indonesian All Star yang akan berlaga di Italia. Bersama temannya, Saputra pun mengikuti seleksi tersebut.
Dengan bekal uang pinjaman Rp 2.000, ia berangkat ke lokasi seleksi di Palembang. Uang itu dibelikan pempek untuk sarapan. Saputra berhasil lolos masuk 250 besar di seleksi pertama. Dan, pada hari berikutnya, tanggal 29 Oktober ia terpilih dalam 60 besar untuk menjalani seleksi di Bali.
"Seterusnya tanggal 29 hari Minggu nggak ada uang, sarapan mie saja sama teh. Udah pas itu saya bangga setelah sore-sore terpilih bisa seleksi 60 di bali. Orangtuaku bangga sekali," ucap Saputra.
Karena berteman akrab dengan pemain Sriwijaya FC, Saputra pun menelepon Supardi untuk mengabarkan keberhasilannya menembus 60 besar. "Pas mau ke Bali itu aku telepon Bang Supardi. 'Bang aku lolos. Ada nggak saran buat aku biar nggak cepet puas.' Dari situ aku ada rasa bangga sama dia," kata Saputra.
Di Bali, Saputra kian memuluskan langkah ke Jakarta. Dalam seleksi di Jakarta, ia berhasil masuk ke 18 besar tim yang diberangkatkan ke Italia atas dukungan PT Pertamina (Persero). Menurut Saputra, resepnya untuk berhasil adalah tidak pernah menyerah atau pasrah kepada keadaan.
"Pokoknya jangan nyerah deh. Ekonomi itu bukan segalanya hal untuk meraih mimpi atau prestasi. Berani untuk bermimpi dan jangan pernah takut. Semua itu pasti ada jalan," kata Saputra bijak.
Mengenai rencana masa depan, Saputra mengaku ingin menjadi pemain sepakbola nasional yang handal. Sedangkan dalam waktu dekat ini, ia akan kembali ke Palembang untuk bersekolah dan berlatih lagi di Pusri. Tetap jualan koran?
"Masih-lah. Dari mana aku bisa jajan sekolah sama buat kasih orang tua?" katanya sambil tersenyum.
sumber: http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2011/11/11/014947/1765041/76/kisah-saputra-loper-koran-yang-jadi-juara-di-markas-milan?b991101mainnews
Rabu, 09 November 2011
kenapa SAYA mau jadi KETUA MPA ISMKI??
(KASTRAT 2011)
Sebenarnya saya ingin menyimpan cerita ini hanya untuk diri saya sendiri. tetapi niat itu saya tekan setelah baca buku karangan Donny Deutsch, THE BIG IDEA. berikut kutipan tulisannya:
"beberapa tahun lalu, saya mengutarakan mimpi saya dengan suara keras. Saya katakan, saya akan menjadi walikota New York. Dari mana saya mendapat ide untuk membuat pertanyaan tidak masuk akal tersebut? mengapa BUKAN saya? Mike Bloomberg, walikota saat ini, adalah pebisnis yang mengalahkan politisi konvensional. Ide itu sebenarnya tidak begitu liar.
Namun, inilah menariknya. Tiba-tiba orang bertanya, "apakah Donny Deutsch akan mencalonkan diri sebagai walikota? " Setiap artikel yang ditulis tentang saya setelah itu menyebutkan bahwa saya akan mencalonkan diri sebagai walikota. Nah, sebelum saya mengatakan itu, tak ada seorangpun yang memandang saya dan berpikir, "ia calon walikota." Tak seorangpun menyandingkan nama saya dengan walikota. Namun,sekali saya mengutarakan mimpi saya itu, tiba-tiba pintu kesempatan sedikit terkuak. Ada kemungkinan yang bisa saya kejar dengan bebas. Saya masih sering ditanyai apakah saya akan mencalonkan diri sebagai walikota. Siapa tahu? Mungkin suatu hari nanti.
sebuah kisah singkat yang dapat menggerakan jemari saya untuk menulis postingan yang anda baca saat ini. Ini adalah kisah yang saya sendiri pada awalnya takut untuk ungkapkan, untuk menghindari kesalahpahaman terhadap saya. Takut dikatakan SOK mampu dan SOMBONG. Saya masih takut untuk mengutarakan mimpi dan apa yang saya akan lakukan, walaupun hal itu menurut saya baik.
mimpi ini awalnya sangat bertolak belakang dengan dinamika aspirasi yang berjalan beberapa bulan lalu. pasca rakornas bulan juli 2011 di FKUI, banyak isu yang mendera saya untuk mencalonkan diri sebagai Sekjen terpilih ISMKI (sekjen adalah jabatan tertinggi di ikatan senat mahasiswa kedokteran mahasiswa), sebuah isu yang menyenangkan sekaligus membuat saya tidak nyaman. saya hingga saat ini masih memegang amanah koord. kajian strategis ISMKI. Saya masih nyaman sebagai koord dan tidak ingin kinerja tim kami di kastratnas terganggu.
Saya sangat berterima kasih kepada semua teman-teman dan institusi yang mengharapkan saya menjadi sekjenter. Jujur, sayapun ikut memikirkannya.
Banyak orang di luar sana ingin menjadi sekjen walaupun tanpa kans, sedangkan saya memiliki pendukung dan kesempatan yang besar.....
semua mahasiswa kedokteran mengetahui bahwa sekjen adalah posisi tertinggi untuk level mahasiswa FK di indonesia, saya berkesempatan untuk itu.....
Semua mengetahui bahwa akan banyak keuntungan -manfaat secara pribadi dan organisasi yang akan saya dapatkan bila menjadi sekjen.......
Sudah banyak cerita bahwa sekjen-sekjen terdahulu menjadi orang-orang sukses.jelas. apakah saya tidak ingin mengikuti langkah mereka?.....
dan yang paling miris,dari pengamatan sekilas yang paling sering diundang ke acara ISMKI seperti LKMM wil, nas, dll adalah sekjen-sekjen terdahulu ketimbang koord-koord terdahulu.... tidak maukah saya berkesempatan untuk bertemu generasi-generasi ISMKI ditahun-tahun mendatang......
apakah saya tidak ingin berkontribusi lebih di ISMKI, mewujudkan mimpi-mimpi saya akan ISMKI yang semakin membaik?
masih banyak pertanyaan serupa yang mengganggu saya....
saya mencoba menganalisis aspirasi ini, ternyata apa yang saya dapatkan berbeda dengan aspirasi yang ada. Satu hal yang dapat saya sampaikan adalah "saya hilangkan niat maju dalam bursa sekjenter demi ISMKI". untuk detailnya lebih enak bila kita berdiskusi secara langsung apabila teman-teman pembaca berkesempatan bertemu saya secara langsung. salah satu hal yang pasti, saya tidak maju adalah bukti kecintaan saya kepada ISMKI.
ISMKI tak hanya Pengurus Harian. cintailah ISMKI seutuhnya. ada Badan Pers Nasional (BPN ISMKI), Badan Analisis dan Pengembangan Ilmiah Nasional (BAPIN-ISMKI), Pengurus Harian Wilayah (PHW ISMKI), Pengurus Harian Nasional (PHN ISMKI), dan Majelis Pertimbangan Agung (MPA ISMKI). Majelis Pertimbangan Agung ternyata memiliki magnet yang mampu membuat cinta saya secara tiba-tiba serasa menemukan pilihan yang telah lama dicari. bukan karena MPA adalah pilihan hati yang pas, tapi pilihan hati yang saat ini perlu saya buat lebih pas. Pas di hati semua mahasiswa kedokteran indonesia, MPA ISMKI.
MPA ISMKI adalah nama yang diberikan pada tahun 1981 (tahun ketika ISMKI dilahirkan) kepada badan konsiderasi, saat itu nama ini mungkin sangat relevan dengan keadaan tatanegara republik Indonesia. Sekarang hal ini menurut saya sudah tidak relevan lagi. *ulasan lengkap telah saya buat dalam bentuk kajian penguatan MPA ISMKI-insya'Allah besok disampaikan di muswil ISMKI wilayah 1 di batam-secepatnya akan saya share bila terpilih ya.hheee*. Perlu diketahui, saya tipikal manusia yang tidak begitu meributkan nama ataupun redaksi hingga harus berdebat berjam-jam. jadi nama MPA ISMKIpun tidak masalah, saya lebih suka karena bernilai historis. tetapi fungsi harus tetap sesuai dengan perkembangan zaman. Yang saya rasakan hingga saat ini: kita, mayoritas mahasiswa kedokteran seakan tidak pernah menganggap bahwa MPA memiliki peran penting dalam pembangunan ISMKI, seakan-akan hanya PH yang berperan, MPA hanyalah wadah konsultasi atau wadah untuk marah-marah. saya sempat kesal loh dengan MPA. Ternyata asumsi ini salah besar. sekarang saya malah menjadi kandidat MPA. tanya kenapa?? *iklan.
Hal itulah yang ingin saya perjuangkan. Saya ingin semua mahasiswa FK paham benar, bahwa ISMKI itu bukan cuma PHN atau PHW. Saya ingin semua memahami peran MPA dalam pembangunan ISMKI. saya ingin membuktikan bahwa MPA memang memiliki kontribusi yang nyata, telah terlihat tahun-tahun sebelumnya, dan akan kita perkuat bersama kedepannya. Kita perkuat dan sempurnakan pula fungsi MPA ISMKI, jangan sampai hilang karena fungsi dan kekuatannya dipertanyakan layaknya DPA RI. Saya ingin semakin ISMKI yang semakin menua ini semakin profesional dalam pergerakannya, tapi tidak melupakan kekeluargaan yang menjadi kekuatan utamanya. saya ingin semua mahasiswa beberapa tahun lagi sepakat bahwa MPA ISMKI adalah "sesuatu" dari bagian keluarga besar yang lembut dan tegas.
saat ini, saya menjadi kandidat MPA ISMKI dari wilayah 1. besok pemilihannya (11-11-'11), sayapun tidak tahu apakah saya akan terpilih atau tidak. paling tidak saya telah mencoba. walaupun dalam perjalanan menjadi MPA saya malah kena marah habis-habisan oleh beberapa senior "karena tidak mencalonkan diri sebagai sekjenter". masih mendapat pertanyaan "kenapa tidak mencalonkan diri menjadi sekjenter" dan luar biasanya masih mendapat dukungan "untuk mencalonkan diri menjadi sekjenter". dari perjalanan tersebut yang saya syukuri adalah:
1. Ternyata...Saya masih memiliki banyak sahabat di ISMKI, masih peduli, walau tanpa jabatan sekalipun. kita keluarga. ^^
2. saya malah jadi tertantang untuk memajukan MPA, agar nanti mahasiswa tak cuma bertanya, "kenapa tidak jadi sekjenter" , tapi ada juga "kenapa tidak jadi MPA?". hahahha.... (*intinya, MPA menjadi strategis)
Saya ingin sampaikan bahwa "pemimpin itu kontribusi, bukan posisi". "kontribusi pun tak tergantung posisi". meminjam kata-kata yang diperuntukkan bagi Alton Brown, Keberanian mengambil keputusan berasal dari keyakinannya bahwa dia akan sukses-dan pemahaman bahwa ia akan baik-baik saja jika terjadi sebaliknya. Tanpa posisi/jabatan siapapun mampu untuk sukses, alih-alih memajukan ISMKI. so, jangan sampai kamu ketinggalan waktu untuk berkontribusi.... terserah kamu mau dimana. Hal ini mematahkan mitos bahwa sukses itu posisi. SUKSES itu demokrasi, terutama bagi orang yang ingin berkontribusi. siapapun berhak untuk sukses.
kontribusi itu kehormatan.
salam,
Franz Sinatra Yoga
Mahasiswa....Hanya Mahasiswa
hari ini... tanggal 11-11-'11
saya diamanahi menjadi MPA ISMKI... sekali lagi amanah dipundak ini.
semoga bisa menjadi wakil yang baik dari wilayah satu untuk indonesia.
mohon maaf saya sampaikan teruntuk kawan-kawan yang datang muswil karena tidak bisa hadir.
lewat webcam pun sangat terasa betapa kentalnya persaudaraan kita.
(Diskusi dengan Delegasi seSumatera)
euforia wilayah 1.. menyenangkan seperti biasanya.
mari bersama menuju ISMKI yang semakin BAIK.....
bersama MPA ISMKI. Lembut dan Tegas!!
Senin, 07 November 2011
PENTINGNYA “KAJIAN” DALAM SISTEM KADERISASI
Oleh : Franz Sinatra Yoga*
Bidang kesehatan mulai mengadopsi konsep advokasi ketika WHO pada tahun 1994 merumuskannya sebagai salah strategi promosi kesehatan. Pada rumusan tersebut terdapat 3 strategi pokok,yaitu : 1). Advocacy, 2). Social support, dan 3). Empowerment. Advokasi bertujuan untuk menciptakan dukungan terhadap hal yang diinginkan atau perubahan dari suatu kebijakan yang telah atau akan dibuat. Prinsipnya, advokasi adalah salah satu cara untuk mencapai suatu visi. Dalam praktiknya, kajian akan menjadi peluru dan tindakan advokasi adalah senjatanya. Sehingga kita tidak dapat memisahkan antara kedua hal tersebut.
Istilah kajian menjadi populer beberapa tahun belakangan dengan adanya sebuah bidang bernama kajian strategis (kastrat). Kajian adalah hasil dari mengkaji, sedangkan mengkaji memiliki arti sebagai kegiatan belajar; mempelajari; memeriksa; menyelidiki; memikirkan (mempertimbangkan); menguji; menelaah; baik buruk suatu perkara. Kajian yang dihasilkan nantinya berfungsi sebagai bahan advokasi. Di dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (PSDM), istilah advokasi dan kajian mungkin tidak terlalu sering terdengar. Padahal WHO menggunakan advokasi sebagai salah satu cara promosi kesehatan yang juga bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat agar hidupnya menjadi lebih sehat. Tujuan WHO tersebut selaras dengan tujuan PSDM, perubahan perilaku sehingga terbentuk penerus yang lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya.
Mengenal suatu bidang berdasarkan nama sering mengerucutkan paham mahasiswa akan organisasi yang sebenarnya. Hal ini merupakan salah satu penyebab ketiadaan “fungsi kajian” dibidang kaderisasi. Apabila disebutkan “bidang pengabdian masyarakat”, maka yang akan dipikirkan adalah bakti sosial. Ketika menyebutkan “kastrat”, barulah advokasi dan kajian timbul. Bila kita berkata “bidang PSDM”, yang paling cepat melintas dipikiran adalah kaderisasi dan latihan kepemimpinan dan manajemen mahasiswa (LKMM).
Sangat disayangkan bila pada kenyataannya eksistensi kaderisasi hanya diintegrasikan dalam LKMM. Hal ini perlahan menutup essensi dari “kaderisasi” itu sendiri. Kenyataannya, banyak institusi menyerahkan pengkaderan lewat LKMM, dan lebih buruknya lagi-melalui LKMM, tanggung jawab kaderisasi diserahkan secara tidak langsung kepada para pembicara. pertanyaannya, apakah hal itu dinamakan sistem kaderisasi?
Berdasarkan teori, kaderisasi adalah upaya mempersiapkan generasi penerus. Salah satu caranya dengan pendidikan. Pendidikan ini memiliki kelemahan berupa hasil yang lama, karena perubahan perilaku melalui proses pembelajaran pada umumnya membutuhkan waktu yang lama. LKMM memang salah satu bentuk pendidikan dalam berorganisasi, tetapi waktu pendidikannya cenderung singkat. Sehingga PSDM nasional ISMKI menyiapkan suatu sistem follow up kader. Apakah follow up ini sudah berjalan efektif? Dan yang terpenting apakah institusi telah menjalankan sistem follow up ini? Apabila institusi menjawab belum. Secara tidak langsung kaderisasi institusi sama dengan LKMM. Sungguh!! Bukan ini kaderisasi organisasi yang kita harapkan.
Dua paragraf diatas merupakan salah bentuk kajian singkat tentang “essensi kaderisasi bidang PSDM”. Masih banyak warna-warni permasalahan kaderisasi, baik di tingkat lokal, wilayah, nasional, bahkan internasional. Dengan mengkaji, teman-teman PSDM dapat mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan dari kaderisasi yang berjalan. Dengan kajian, teman-teman akan memiliki data kualitatif dan data kuantitatif tentang kaderisasi. Karena inti PSDM itu adalah kaderisasi bukan LKMM. Data-data inilah yang akan teman-teman PSDM gunakan dalam mengubah sistem kaderisasi atau melakukan reinforcement (penguatan) fungsi yang telah ada dan menyusun suatu sistem kaderisasi yang problem based (berlandaskan masalah yang ada). Niscaya, perbaikan sistem sehingga kaderisasi akan berjalan secara berkelanjutan, simultan, dan hasilnya insya’Allah signifikan.
Dengan ini, mari kita mendefinisikan ulang bahwa “fungsi kajian” tidaklah dimiliki kastrat saja. Begitupun “fungsi kaderisasi”,tak hanya PSDM yang memilikinya. Penamaan bidang adalah koridor dimana dan apa tujuan bidang tersebut bergerak. Jadi tidak benar bahwa PSDM tidak boleh mengkaji, Yang ada, terdapat perbedaan isu dalam kajian yang dilakukan. Isu yang dikaji kastrat adalah isu kesehatan/ kebijakan yang erat implikasinya dengan kemaslahatan rakyat. Di bidang PSDM, tentu yang dikaji adalah semua hal menyangkut kaderisasi. Karena itu, seyogyanya semua bidang harus memiliki fungsi kajian ini.
Dengan demikian, bidang yang terdapat diorganisasi akan terus dalam keadaan dinamis. Layaknya cerita ikan salmon berikut ini:
Suatu ketika para nelayan Jepang mencari ikan di tengah lautan luas. Lautan tersebut cukup jauh dari daratan. Mereka menangkap ikan – ikan salmon untuk dibawa ke daratan. Orang – orang jepang tentu menginginkan ikan yang segar, tapi ikan yang dibawa para nelayan tersebut telah mati ketika sampai di daratan sehingga tidak segar lagi. Lalu nelayan – nelayan itu berpikir bagaimana caranya agar ikan – ikan itu tidak mati ketika sampai di daratan.
“Ah. . . mungkin kita harus letakkan di bak yang berisi air dalam kapal kita.” Pikir mereka.
Hal itu pun dicoba, tapi tetap saja ikan – ikan salmon itu tetap mati ketika sampai di daratan akibat perjalanan yang memakan waktu yang lama ini.
“Bagaimana kalau diberi es?.”
Di dalam bak air tersebut diberi es, namun tetap saja ikan salmon itu mati dan tak segar lagi. Akhirnya muncullah sebuah ide yang kedengarannnya tak masuk akal dari salah seorang nelayan. Ide tersebut pun sebenarnya hanya iseng – iseng saja untuk dicoba. Nelayan itu mencoba untuk memasukkan anak ikan hiu kecil ke dalam bak air yang berisi ikan – ikan salmon hasil tangkapan mereka. Dan hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata ikan – ikan salmon itu tetap hidup setelah melalui perjalanan panjang menuju daratan.
Sebenarnya apa yang membuat ikan – ikan salmon itu bertahan hidup. Ternyata di dalam bak itu ikan – ikan salmon tersebut dikejar – kejar oleh si anak ikan hiu. Mereka terus dikejar – kejar tanpa henti. Untuk bertahan hidup tentu ikan – ikan salmon itu berenang dengan gesit untuk menghindari dari anak ikan hiu tersebut. Mereka sekuat tenaga berjuang untuk mempertahankan hidup mereka sampai akhirnya ketika sampai di daratan mereka masih bisa bertahan hidup.
Kisah diatas mengajarkan kita sebuah makna bahwa pergerakan ideal kadangkala tercipta dari permasalahan. Anak ikan hiu adalah masalah bagi ikan-ikan salmon. Sebagai upaya untuk mengatasi masalah ini, maka ikan-ikan salmon bergerak secepat mungkin dan secara terus menerus menghindari terkaman anak ikan hiu.
Setiap permasalahan akan membawa kita ke jenjang yang lebih tinggi jika berhasil kita hadapi dengan baik. Karena setiap permasalahan adalah institusi pendidikan informal untuk kita agar dapat bersikap lebih dewasa dan menjadi seseorang yang lebih matang, Masalah memang tidak menyenangkan. Layaknya hiu kecil bagi ikan-ikan kecil tersebut. Namun, jika kita tidak berputus asa dalam menghadapinya niscaya masalah akan membuat nilai diri kita justru menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bila kondisi organisasi dapat seperti ikan salmon, maka organisasi tidak akan mati, bahkan hidup dengan sehat. Kajianlah yang mengidentifikasi ikan hiunya (permasalahan) dan dengan Kajian pulalah kita dapat mengatasi ikan hiu tersebut.
*Opini ini dimuat dalam buletin PSDM ISMKI Wilayah 1 th. 2011
* Ketua kajian strategis nasional (kastratnas)
National coordinator for Strategic Issues Analysis Dept. 2011
Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI)
Indonesian Medical Student Executive Boards' Association
mobile phone: 085769382203
facebook: franz sinatra yoga
blog: www.franzsinatrayoga.blogspot.com
Institusi: FK Unsri 2008
National coordinator for Strategic Issues Analysis Dept. 2011
Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI)
Indonesian Medical Student Executive Boards' Association
mobile phone: 085769382203
facebook: franz sinatra yoga
blog: www.franzsinatrayoga.blogspot.com
Institusi: FK Unsri 2008
(Habis turun pesawat* dalam perjalanan menuju lomba KTI tk. Nas, SCIENTIFIC FAIR FK UNDIP)
03.25
FRANZ SINATRA YOGA




