Selasa, 03 April 2012

Modul Pribadi Koass Radiologi #Anatomi sistem pembuluh darah

Jadi koass radiologi itu enak kok... kita terpacu untuk mengingat anatomi dan fisiologi tanpa ada tekanan... ga kaya dulu pas di preklinik, tertekan karena takut mau ujian anatomi kan? hahaha.. ini bener-bener belajar anatomi untuk ilmu, belajar tanpa di paksa... dan kita semua tau, bahwa ANATOMI itu dasar ilmu yg sangat penting kalau mau jadi dokter yg baik...

Sistem kardiovaskuler

Sistem kardiovaskuler adalah suatu sistem organ yang bertugas untuk menyampaikan nutrien (seperti asam amino dan elektrolit), hormon, sel darah dll dari dan menuju sel-sel tubuh manusia, yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan homeostasis. Sistem ini terdiri atas organ jantung dan pembuluh-pembuluh darah.
Jantung merupakan organ yang terdiri dari empat ruangan, yaitu atrium kanan, ventrikel kanan, atrium kiri dan ventrikel kiri. Secara umum sistem ini bekerja dengan mengikuti pola sebagai berikut:
Darah yang rendah kandungan oksigen dan tinggi CO2 yang berasal dari sirkulasi sistemik dihantarkan melalui vena kava superior dan inferior menuju atrium kanan, masuk ke ventrikel kanan lalu dihantarkan melalui arteri pulmonalis menuju ke paru untuk di-oksigenasi kembali. Selanjutnya darah yang telah kaya akan oksigen akan masuk melalui vena pulmonalis  menuju atrium kiri, lalu masuk ke ventrikel kiri untuk dihantarkan menuju sirkulasi sistemik melalui pembuluh aorta. Demikian seterusnya.
Secara umum, pembuluh darah yang ada di dalam tubuh dapat dibagi menjadi pembuluh yang membawa darah menjauhi jantung (arteri) dan menuju jantung (vena).
Sistem kardiovaskular
Sistem kardiovaskular

Arteri

Arteri merupakan pembuluh yang bertugas membawa darah menjauhi jantung. Tujuannya adalah sistemik tubuh, kecuali a.pulmonalis yang membawa darah menuju paru untuk dibersihkan dan mengikat oksigen. Arteri terbesar yang ada dalam tubuh adalah aorta,  yang keluar langsung dari ventrikel kiri jantung.
Aorta yang keluar keluar dari ventrikel kiri jantung sebagai aorta ascendens. Kemudian, aorta ascendens mengalami percabangan yaitu arcus aorta sebelum melanjutkan diri sebagai aorta descendens. Arcus aorta memiliki tiga percabangan yaitu:
  1. A.brachiocephalic/a.anonyma. Arteri ini akan bercabang menjadi a.carotis communis dextra,  a.subclavia dextra dan a.thyroidea ima (yang mendarahi kelenjar thyroid bagian inferior).
  2. 2. A.carotis communis sinistra.
  3. 3. A. subclavia sinistra.
Aorta dan cabang-cabangnya
Aorta dan cabang-cabangnya

Setiap a.carotis communis (baik dextra maupun sinistra) akan bercabang menjadi a.carotis interna (yang mendarahi otak) dan a.carotis externa (yang mendarahi wajah, mulut, rahang dan leher) . Sedangkan setiap a.subclavia (baik dextra dan sinistra) akan bercabang antara lain menjadi a.vertebralis (mendarahi otak dan medula spinalis). Kedua a.vertebralis (dextra dan sinistra) akan menyatu menjadi arteri-arteri spinal yang segmental, dan sebelum naik ke otak akan membentuk a.basilaris. A.basilaris lalu bercabang menjadi a.cerebralis posterior dan beranastomosis dengan a.communicating posterior dan a.cerebralis anterior membentuk circulus Willisi yang khas di otak.

A. subclavia sendiri tetap berjalan ke ekstremitas atas sebagai a.aksilaris dan mempercabangkan  a.subscapularis, yang mana akan mempercabangkan a.circumflexa scapulae.

Selain itu, a.subclavia juga akan bercabang menjadi a.mammaria interna (memperdarahi dinding dada depan dan kelenjar susu), a.thyrocervicalis dan a.costocervical. Cabang dari a.thyrocervical adalah a.thyroidea inferior yang mendarahi kelenjar thyroid, a.suprascapular (a.transversa scapulae) dan a.transversa colli (a.transversa cervical).

Pendarahan arteri ekstremitas atas
Pendarahan ekstremitas atas disuplai oleh a.aksilaris, yang merupakan cabang dari a.subclavia (baik dextra maupun sinistra).  A.aksilaris ini akan melanjutkan diri sebagai a.brachialis di sisi ventral lengan atas, selanjutnya pada fossa cubiti akan bercabang menjadi a.radialis (berjalan di sisi lateral lengan bawah, sering digunakan untuk mengukur tekanan darah dan dapat diraba pada anatomical snuffbox) dan a.ulnaris (berjalan di sisi medial lengan bawah).
Pendarahan lengan atas
Pendarahan lengan atas
A.radialis terutama akan membentuk arkus volaris profundus, sedangkan a.ulnaris terutama akan membentuk arkus volaris superfisialis, yang mana kedua arkus tersebut akan mendarahi daerah tangan dan jari-jari.
Arcus volaris
 Arcus volaris

Pendarahan arteri ekstremitas bawah
Pendarahan ekstremitas bawah disuplai oleh a.femoralis, yang merupakan kelanjutan dari a.iliaka eksterna (suatu cabang a.iliaka communis, cabang terminal dari aorta abdominalis). Selanjutnya a.femoralis memiliki cabang yaitu a.profunda femoris, sedangkan a.femoralis sendiri tetap berlanjut menjadi a.poplitea. A.profunda femoris sendiri memiliki empat cabang a.perfontrantes. Selain itu juga terdapat a.circumflexa femoris lateral dan a.circumflexa femoris medial yang merupakan percabangan dari a.profunda femoris.
Arteri femoralis
Arteri femoralis

A.poplitea akan bercabang menjadi a.tibialis anterior dan a.tibialis posterior. A.tibialis anterior akan berlanjut ke dorsum pedis menjadi a.dorsalis pedis yang dapat diraba di antara digiti 1 dan 2. A.tibialis posterior akan membentuk cabang a.fibular/peroneal, dan a.tibialis posterior pedis sendiri tetap berjalan hingga ke daerah plantar pedis dan bercabang menjadi a.plantaris medial dan a.plantaris lateral. Keduanya akan membentuk arcus plantaris yang mendarahi telapak kaki.

Sedangkan di daerah gluteus, terdapat a.gluteus superior, a.gluteus inferior dan a.pudenda interna. Ketiganya merupakan percabangan dari a.iliaca interna.

Pendarahan arteri organ-organ visera
Pendarahan organ-organ visera disuplai oleh aorta abdominalis, suatu terusan dari aorta descendens. Cabang-cabang dari aorta abdominalis tersebut adalah: a.phrenicus inferior, a.coeliaca, a.mesenterica superior, a.suprarenal media, a.renalis, a.gonadal (a.ovarica/a.testicular), a.lumbar, a.mesenterica inferior, a.sacral mediana, dan a.iliaca communis. Organ-organ dalam seperti hati, lambung, dan limpa disuplai oleh a.coeliaca, kelenjar anak ginjal disuplai oleh a.suprarenal media, ginjal disuplai oleh a.renalis, intestinum disuplai oleh a.mesenterica superior dan inferior.
Aorta abdominal
Aorta abdominal

Vena

Vena merupakan pembuluh yang mengalirkan darah dari sistemik kembali ke jantung (atrium dextra), kecuali v.pulmonalis yang berasal dari paru menuju atrium sinistra. Semua vena-vena sistemik akan bermuara pada vena cava superior dan vena cava inferior.

Pendarahan vena kepala
Vena yang ada di kepala seperti v.emisaria dan v.fasialis sebagian akan bermuara pada v.jugularis interna, sebagian lagi pada v.jugularis eksterna. Nantinya v.jugularis eksterna akan bermuara pada v.subclavia, di mana v.subclavia akan beranastomosis dengan v.jugularis interna membentuk v.brachiocephalica. Terdapat dua v.brachiocephalica, masing-masing dextra dan sinistra. Keduanya akan menyatu sebagai v.cava superior.
Vena jugularis
Vena jugularis
Pendarahan vena ekstremitas atas
Vena-vena yang ada di tangan, seperti v.intercapitular, v.digiti palmaris dan v.metacarpal dorsalis akan bermuara pada v.cephalica dan v.basilica di lengan bawah. Dari distal ke proksimal, kedua vena ini akan mengalami percabangan dan penyatuan membentuk v.mediana cephalica, v.mediana basilica, v.mediana cubiti, v.mediana profunda dan v. mediana antebrachii sebelum mencapai regio cubiti. Setelah regio cubiti, vena-vena tersebut kembali membentuk v.cephalica dan v.basilica. V.basilica akan bersatu dengan v.brachialis (yang merupakan pertemuan v.radialis dan v.ulnaris) membentuk v.aksilaris di mana nantinya v.cephalica juga akan menyatu dengannya (v.aksilaris). V.aksilaris akan terus berjalan menuju jantung sebagai v.subclavia lalu beranastomosis dengan v.jugularis interna dan eksterna (dari kepala) membentuk v.brachiocephalica untuk selanjutnya masuk ke atrium dextra sebagai vena cava superior.
Pendarahan vena ekstremitas atas
Pendarahan vena ekstremitas atas

Pendarahan vena ekstremitas bawah
Arcus vena dorsalis yang berada di daerah dorsum pedis akan naik melalui v.saphena magna di bagian anterior medial tungkai bawah. V.saphena magna tersebut akan bermuara di v.femoralis. Sedangkan v.saphena parva yang berasal dari bagian posterior tungkai bawah akan bermuara pada v.poplitea dan berakhir di v.femoralis. V.tibialis anterior dan v.tibialis posterior juga bermuara pada v.poplitea.

Dari v.femoralis, akan berlanjut ke v.iliaca externa lalu menuju v.iliaca communis dan selanjutnya v.cava inferior.

Selain itu terdapat juga v.glutea superior, v.glutea inferior dan v.pudenda interna di daerah gluteus, yang bermuara ke v.iliaca interna.

Pendarahan vena organ-organ visera
Vena-vena yang keluar dari organ visera, seperti v.hepatica (organ lambung, pankreas, usus halus dan kolon) , v.suprarenal, v.renalis (ginjal), v.lumbar dan v.testicular akan bermuara ke v.cava inferior.

Referensi:
Netter FH. Atlas of Human Anatomy. 4th ed. US: Saunders; 2006.
Van de Graaf KM. Human anatomy. 6th ed. US: The McGraw-Hill Companies; 2001.

Minggu, 01 April 2012

Modul Pribadi Koass Penyakit Dalam #DIABETES MELLITUS


DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN
DIABETES MELITUS
(disarikan dari Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia : Perkeni 2006)
Alwi Shahab
Subbagian Endokrinologi Metabolik
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
FK Unsri/ RSMH Palembang

I. Pendahuluan

            Yang dimaksud dengan Diabetes Melitus adalah suatupenyakit kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa didalamdarah. Penyakit ini dapat menyerang segala lapisan umur dan sosialekonomi. Di  Indonesia saat ini penyakit DM belum menempati skalaprioritas utama pelayanan kesehatan walaupun sudah jelas dampaknegatifnya , yaitu berupa penurunan kualitas SDM , terutama akibatpenyulit menahun yang ditimbulkannya.
            Dari berbagai penelitian epidemiologis di Indonesiadidapatkan prevalensi DM sebesar 1,5 – 2,3 % pada penduduk usia lebihdari 15 tahun, bahkan pada suatu penelitian epidemiologis di Manadodidapatkan prevalensi DM 6,1 %.  Penelitian yang dilakukan di Jakarta,Surabaya, Makasar dan kota-kota lain di Indonesia  membuktikan adanyakenaikan prevalensi  dari tahun ketahun.  Berdasarkan pola pertambahanpenduduk , diperkirakan pada tahun 2020 nanti akan ada sejumlah 178 jutapenduduk berusia diatas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DMsebesar 4 % akan didapatkan 7 juta pasien DM , suatu jumlah yang sangatbesar untuk dapat ditangani oleh dokter spesialis / subspesialis /endokrinologis. 
            Dalam strategi pelayanan kesehatan bagi penderita DM,yang seyogyanya diintegrasikan kedalam pelayanan kesehatan primer, perandokter umum adalah sangat penting. Kasus DM yang tanpa disertai denganpenyulit dapat dikelola dengan tuntas oleh dokter umum. Apalagi kalaukemudian kadar glukosa darah ternyata dapat terkendali baik denganpengelolaan ditingkat pelayanan kesehatan primer. Tentu saja harusditekankan pentingnya tindak lanjut  jangka panjang pada para pasientersebut. Pasien yang potensial akan menderita penyulit DM perlu secaraperiodik dikonsultasikan kepada dokter ahli terkait ataupun kepada timpengelola DM pada tingkat lebih tinggi di rumah sakit rujukan. Kemudianmereka dapat dikirim kembali kepada dokter yang biasa mengelolanya.Demikian pula pasien DM yang sukar terkendali kadar glukosa darahnya,pasien DM dengan penyulit, apalagi penyulit yang potensial fatal, perludan harus ditangani oleh instansi yang lebih mampu dengan peralatan yanglebih lengkap, dalam hal ini Pusat DM di Fakultas Kedokteran / RumahSakit Pendidikan / RS Rujukan Utama.  Untuk mendapatkan hasilpengelolaan yang tepat guna dan berhasil guna bagi pasien DM dan untukmenekan angka penyulit, diperlukan suatu standar pelayanan minimal bagipenderita DM. Diabetes Melitus adalah penyakit menahun yang akandiderita seumur hidup, sehingga yang berperan dalam pengelolaannya tidakhanya dokter, perawat dan ahli gizi, tetapi lebih penting lagikeikutsertaan  pasien sendiri dan keluarganya. Penyuluhan  kepada pasiendan keluarganya akan sangat membantu meningkatkan keikutsertaan merekadalam usaha memperbaiki hasil pengelolaan DM.

II. Diagnosis
            Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadarglukosa darah, tidak dapat ditegakkan hanya atas dasar adanya glukosuriasaja. Dalam menegakkan diagnosis DM harus diperhatikan asal bahan darahyang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk diagnosis DM,pemeriksaan yang dianjurkan adalah  pemeriksaan glukosa dengan caraenzimatik dengan bahan glukosa darah plasma vena. Untuk memastikandiagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah seyogyanya dilakukan dilaboratorium klinik yang terpercaya . Untuk memantau kadar glukosa darahdapat dipakai bahan darah kapiler.  Saat ini banyak dipasarkan alatpengukur kadar glukosa darah cara reagen kering yang umumnya sederhanadan mudah dipakai. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah memakaialat-alat tersebut dapat dipercaya sejauh kalibrasi dilakukan denganbaik dan cara pemeriksaan sesuai dengan cara standar yang dianjurkan.Secara berkala , hasil pemantauan dengan cara reagen kering perludibandingkan dengan cara konvensional.

A. Pemeriksaan Penyaring
Pemeriksaanpenyaring yang khusus ditujukan untuk DM pada penduduk umumnya(mass-screening = pemeriksaan penyaring) tidak dianjurkan karenadisamping biaya yang mahal, rencana tindak lanjut bagi mereka yangpositif belum ada.  Bagi mereka yang mendapat kesempatan untukpemeriksaan penyaring bersama penyakit lain (general check up) , adanyapemeriksaan penyaring untuk DM dalam rangkaian pemeriksaan tersebutsangat dianjurkan.
Pemeriksaan penyaring perlu dilakukan pada kelompok  dengan salah satu faktor risiko untuk DM, yaitu :
-         kelompok usia dewasa tua (>45 tahun )
-         kegemukan {BB (kg)>120% BB idaman atau IMT>27 (kg/m2)}
-         tekanan darah tinggi (>140/90 mmHg)
-         riwayat keluarga DM
-         riwayat kehamilan dengan BB lahir bayi>4000 gram
-         riwayat DM pada kehamilan
-         dislipidemia (HDL<35 mg/dl dan atau Trigliserida>250 mg/dl
-         pernah TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau  GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu)

Tabel 1. Kadar glukosa darah sewaktu* dan puasa* sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl)

*metode enzimatik

B.    Langkah-langkah untuk  menegakkan diagnosis Diabetes Melitus

Diagnosisklinis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupapoliuria, polidipsia, polifagia, lemah, dan penurunan berat badan yangtidak dapat dijelaskan sebabnya. Keluhan lain yang mungkin dikemukakanpasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur dan impotensia pada pasienpria, serta pruritus vulvae pada pasien wanita. Jika keluhan khas,pemeriksaan glukosa darah sewaktu³  200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa ³126 mg/dl juga digunakan untuk patokan diagnosis DM.  Untuk kelompoktanpa keluhan khas DM, hasil pemeriksaan glukosa darah yang baru satukali saja abnormal , belum cukup kuat untuk  menegakkan diagnosis klinisDM. Diperlukan pemastian lebih lanjut dengan menddapatkan sekali lagiangka abnormal, baik kadar glukosa darah puasa³126 mg/dl, kadar glukosa darah sewaktu³200 mg/dl pada hari yang lain, atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) yang abnormal.

Cara pelaksanaan TTGO (WHO 1985)
-         3 (tiga) hari sebelumnya makan seperti biasa
-         kegiatan jasmani secukupnya, seperti yang biasa dilakukan
-         puasa semalam, selama 10-12 jam
-         kadar glukosa darah puasa diperiksa
-         diberikan glukosa 75 gram atau 1,75 gram/kgBB, dilarutkan dalam air 250 ml dan diminum selama/dalam
          waktu 5 menit
-         diperiksa kadar glukosa darah 2 (dua) jam sesudah beban glukosa; selama pemeriksaan subyek yang
          diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.

 Kriteria diagnostik Diabetes Melitus*


1. Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena)³200 mg/dl  , atau
2. Kadar glukosa darah puasa (plasma vena)³126 mg/dl     
     (Puasa berarti tidak ada masukan kalori sejak 10 jam terakhir )  atau
     Kadar glukosa plasma³200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO**

* Kriteria diagnostik tsb harusdikonfirmasi ulang pada hari yang lain, kecuali untuk keadaan khashiperglikemia dengan dekompensasi metabolik akut, seperti ketoasidosisatau berat badan yang menurun cepat.

**Cara diagnosis dengan kriteria ini tidak dipakai rutin diklinik.


III. Klasifikasi

Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI ( Perkumpulan Endokrinologi Indonesia )adalahyang sesuai dengan anjuran klasifikasi DM menurut American DiabetesAssociation (ADA) 1997, sbg berikut :

1.      Diabetes Melitus tipe 1 (destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut) :                 
§         Autoimun
§         Idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)
2.     Diabetes Melitus tipe 2 (bervariasi mulai dari yang terutama dominanresistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yangterutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin)

3.      Diabetes Melitus tipe lain :
A.     Defek genetik fungsi sel beta :
*        Maturity Onset Diabetes of the Young (MODY) 1,2,3.
*        DNA mitokondria
B.     Defek genetik kerja insulin
C.     Penyakit endokrin pankreas :
*        pankreatitis
*        tumor pankreas /pankreatektomi
*        pankreatopati fibrokalkulus
D.     Endokrinopati :
*        akromegali
*        sindrom Cushing
*        feokromositoma
*        hipertiroidisme
E.      Karena obat/zat kimia :
*        vacor, pentamidin, asam nikotinat
*        glukokortikoid, hormon tiroid
*        tiazid, dilantin, interferon alfa dan lain-lain
F.      Infeksi :
*        Rubella kongenital, Cytomegalovirus (CMV)
G.     Sebab imunologi yang jarang :
*        antibodi anti insulin
H.     Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM :
*        sindrom Down, sindrom Kleinfelter, sindrom  Turner, dan lain-lain.

4.      Diabetes Melitus Gestasional (DMG)

IV. Pengelolaan

Tujuan :

1.     Jangka pendek: menghilangkan keluhan/gejala DM dan mempertahankan rasa nyaman dan sehat.
2.     Jangka panjang: mencegah penyulit, baik makroangiopati, mikroangiopati maupunneuropati, dengan tujuan akhir menurunkan morbiditas dan mortilitas DM.
3.    Cara: menormalkan kadar glukosa, lipid, insulin.
Mengingat mekanisme dasar kelainan DM tipe-2 adalah terdapatnya faktor genetik,tekanan darah, resistensi insulin dan insufisiensi sel beta pankreas, maka cara-cara untuk memperbaikikelainan dasar yang dapat dikoreksi harus tercermin pada langkah pengelolaan.
4.    Kegiatan: mengelola pasien secara holistik, mengajarkan perawatan mandiri dan melakukan promosi perubahan perilaku.

Pilar utama pengelolaan DM :

1.Edukasi
2. Perencanaan makan 
3. Latihan jasmani
4. Obat-obatan
Padadasarnya, pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan disertaidengan latihan jasmani yang cukup selama beberapa waktu (2-4 minggu).Bila setelah itu kadar glukosa darah masih belum dapat memenuhi kadarsasaran metabolik yang diinginkan, baru dilakukan intervensifarmakologik dengan obat-obat anti diabetes  oral atau suntikan insulinsesuai dengan indikasi. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat,misalnya ketoasidosis, DM dengan stres berat, berat badan yang menurundengan cepat, insulin dapat segera diberikan. Pada keadaan tertentuobat-obat anti diabetes juga dapat digunakan  sesuai dengan indikasi dandosis menurut petunjuk dokter. Pemantauan kadar glukosa darah biladimungkinkan dapat dilakukan sendiri di rumah, setelah mendapatpelatihan khusus untuk itu.

Edukasi

DiabetesTipe 2 biasa terjadi pada usia dewasa, suatu periode dimana telahterbentuk kokoh pola gaya hidup dan perilaku. Pengelolaan mandiridiabetes secara optimal membutuhkan partisipasi aktif pasien dalammerubah perilaku yang tidak sehat. Tim kesehatan harus mendampingipasien dalam perubahan perilaku tersebut, yang berlangsung seumur hidup.Keberhasilan dalam mencapai perubahan perilaku, membutuhkan edukasi, pengembangan keterampilan (skill), dan motivasi yang berkenaan dengan:
makan makanan sehat;
kegiatan jasmani secara teratur;
menggunakan obat diabetes secara aman, teratur, dan pada waktu-waktu yang spesifik;
melakukan pemantauan glukosa darah mandiri dan memanfaatkan berbagai informasi yang ada;
melakukan perawatan kaki secara berkala;
mengelola diabetes dengan tepat;
mengembangkan sistem pendukung dan mengajarkan keterampilan;
dapat mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.

Edukasi(penyuluhan) secara individual dan pendekatan berdasarkan penyelesaianmasalah merupakan inti perubahan perilaku yang berhasil. Perubahanperilaku hampir sama dengan proses edukasi dan memerlukan penilaian,perencanaan, implementasi, dokumentasi, dan evaluasi.


Perencanaan makan
Diabetestipe 2 merupakan suatu penyakit dengan penyebab heterogen, sehinggatidak ada satu  cara makan khusus yang dapat mengatasi kelainan inisecara umum. Perencanaan makan harus disesuaikan menurut masing-masingindividu. Pada saat ini yang dimaksud dengan karbohidrat adalah gula,tepung dan serat, sedang istilah gula sederhana/simpel, karbohidratkompleks dan karbohidrat kerja cepat tidak digunakan lagi. Penelitianpada orang sehat maupun mereka dengan risiko diabetes mendukung akanperlunya dimasukannya makanan yang mengandung karbohidrat terutama yangberasal dari padi-padian, buah-buahan, dan susu rendah lemak dalam menumakanan orang dengan diabetes. Banyak faktor yang berpengaruh padarespons glikemik makanan, termasuk didalamnya adalah macam gula:(glukosa, fruktosa, sukrosa, laktosa), bentuk tepung (amilose,amilopektin dan tepung resisten), cara memasak, proses penyiapanmakanan, dan bentuk makanan serta komponen makanan lainnya (lemak,protein).



Sabtu, 31 Maret 2012

Modul Pribadi Koass Penyakit Dalam #HIPERTENSI

Hipertensi adalah kondisi dimana tekanan darah melebihi 140 mmHg sistolik dan/atau sama atau melebihi 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang mengonsumsi obat antihipertensi. Berikut klasifikasi hipertensi yang di anut di Indonesia:



Klasifikasi di atas berdasarkan pengukuran tekanan darah selama 2 kali tiap kunjungan pada 2 kali kunjungan dengan menggunakan cuff yang meliputi minimal 80% lengan atas pada pasien dengan posisi duduk dan telah beristirahat selama 5 menit. Pengukuran pertama harus pada dua sisi lengan untuk menghindari kelainan pembuluh darah perifer. Pada kondisi tertenu, pengukuran tekanan darah pada waktu berdiri di Indikasikan pada pasien dengan resiko hipotensi postural (lanjut usia, pasien DM, dll).

Adapun hal lain yang perlu diperhatikan dalam penegakan diagnosis:
A. Faktor resiko kardiovaskular:
1. Hipertensi
2. Merokok
3. Obesitas
4. Inaktivitas fisik
5. Dislipidemia
6. DM
7. Mikroalbuminuria/ GFR <60 ml/ menit.
8. Usia (laki-laki >55 th, perempuan >65 th)
9. Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular dini (laki-laki <55 th atau perempuan <65 th)

B. Kerusakan organ sasaran
1. Jantung : Hipertrofi ventrikel kiri, angina, atau riwayat infark miokard, riwayat revaskularisasi koroner, dan gagal jantung.
2. Otak : Stroke atau transient ischemic attack (TIA).
3. Penyakit Ginjal Kronis
4. Penyakit arteri perifer
5. Retinopati

C. Penyebab hipertensi yang telah diidentifikasi: Sleep apnea, akibat obat/ yang berkaitan dengan obat, penyakit ginjal kronis, aldosteronisme primer, penyakit renovaskular, terapi steroid kronik, sindrom cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, dan penyakit tiroid atau paratiroid.

 Penatalaksanaan hipertensi:

Petunjuk pemilihan obat pada compelling Indication
Pada penggunaan ACE Inhibitor, evaluasi kreatinin dan kalium serum , bila terdapat peningkatan kreatinin >35% atau timbul hiperkalemia maka terapi harus dihentikan.

Kondisi khusus lain:
1. Obesitas dan sibroma metabolik (terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: a. Lingkar pinggang laki-laki >102 cm dan perempuan >89 cm. b. Toleransi glukosa terganggu dengan GDP > 110 mg/dl, c. Tekanan darah minimal 130/85 mmHg, d. trigliserida tinggi > 150 mg/dl, e. Kolesterol HDL rendah, <40 mg/dl pada laki-laki atau <50 mg/dl pada perempuan) ---> modifikasi gaya hidup yang intensif dengan pilihan terapi utama golongan ACE inhibitor, pilian lain adalah penghambat kalsium, alfa blocker, dan penghambat reseptor all.
2. Hipertrofi ventrikel kiri ---> tatalaksana tekanan darah yang agresif termasuk penurunan BB, restriksi asupan natrium, dan terapi semua kelas hipertensi kecuali vasodilator langsung, hidralazin, dan minoksidil.
3. Penyakit arteri perifer---> semua kelas antihipertensi, tatalaksana faktor resiko lain, dan pemberian aspirin.
4.Lanjut usia, termasuk penderita penyakit hipertensi sistolik terisolasi ---> diuretika (tiazid) sebagai lini pertama, dimulai dengan dosis rendah 12,5 mg/hari. Penggunaan obat antihipertensi lain dengan mempertimbangkan penyakit penyerta.
5. Kehamilan ---> pilihan terapi adalah metildopa, beta blocker, antagonis kalsium, dan vasodilator. ACE inhibitor dan antagonis receptor all tidak boleh diberikan selama kehamilan.

Komplikasi:
Hipertrofi ventrikel kiri, proteinuria dan gangguan fungsi ginjal, aterosklerosis pembuluh darah, retinopati, stroke, atau TIA, infark miokard, angina pectoris, dan gagal jantung.
(dapat dikatakan hipertensi ini adalah "the silent killer", membunuh secara diam-diam, ketika telah muncul gejala biasanya penyakit sudah parah dan tidak dapat kembali lagi... karena itu, jangan anggap hipertensi/darah tinggi ini penyakit sepele)


Selain terapi farmakologis, terdapat pula tindakan nonfarmakologis yang tak kalah pentingnya dalam mengatasi hipertensi:
A. Penderita Mengenal pola makanan yang harus dikurangi.
DAFTAR BAHAN PANGAN :
1. Serelia, dan umbi-umbian serta hasil olahannya: beras, jagung, sorgum, cantle, jail, sagu, ubi, singkong, kentang, talas, mie, roti, bihun.
2. Sayuran:
o Sayur daun: kangkung, bayam, pucuk labu, sawi, katuk, daun singkong, daun pepaya, daun kacang, daun mengkudu, dan sebagainya
o Sayur buah: kacang panjang, labu, mentimun, kecipir, tomat, nangka muda, dan sebagainya
o Sayur akar: wortel, lobak, bit, dan sebagainya.
3. Buah: jambu biji, pepaya, jeruk, nanas, alpukat, belimbing, salak, mengkudu, semangka, melon, sawo, mangga.
4. Kacang-kacangan dan hasil olahnya (tempe, tahu) serta polong-polongan.
5. Unggas, ikan, putih telur.
6. Daging merah, kuning telur.
7. Minyak, santan, lemak (gajih), jeroan, margarine, susu dan produknya.
8. Gula, garam.

B. Beberapa aktivitas yang penting dilakukan antara lain:
- Waktu istirahat / tidur yang cukup
- Hiburan dan penyaluran hobi yang seimbang dengan tugas dan kewajiban
- olahraga teratur, dianjurkan 2 – 3 kali seminggu sekurangnya 30 menit setiap kali olahraga
- menghindari konsumsi rokok, alkohol,
- Hindari stress

C. pada ibu hamil yang hipertensi apalagi yang disertai dengan bengkak dan protein urin (pre eklampsia), selain obat-obatan dianjurkan untuk mengurangi konsumsi garam dapur serta meningkatkan makanan sumber Mg (sayur dan buah-buahan). [3]

D. MENGATUR MENU MAKANAN
Mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk menghindari dan membatasi makanan yang dpat meningkatkan kadar kolesterol darah serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke atau infark jantung. Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah:
1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).
2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, craker, keripik dan makanan kering yang asin).
3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng, soft drink).
4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai kacang).
5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).
6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium.
7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape. [3]

E. Mengetahui Jenis-Jenis Obat Antihipertensi



Referensi:

1. http://dokter-medis.blogspot.com/2009/09/klasifikasi-hipertensi.html
2. Pedoman Makan Untuk Kesehatan Jantung Indonesia, PERKI Pusat dan Yayasan Jantung
Indonesia; Jakarta, 2002
3. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Cerika%20Rismayanthi,%20S.Or./DIET%20BAGI%20PENDERITA%20HIPERTENSI.pdf
4.SEHAT BERSAMA HIPERTENSI- SEHAT BERSAMA ASKES. e-pamflet: PROMOSI KESEHATAN PT ASKES (PERSERO).
5. Rani A, Soegondo S, dan Nasir AU. Standar Pelayanan medik Ilmu Penyakit Dalam- PAPDI. 2004. Jakarta

Senin, 26 Maret 2012

Dokumentasi Hasil Keringat


15th Bandung Scientific Meeting of Indonesian Society of Allergy Immunology

 Diagnosis and Management Of Allergic, Immunologic, and Related Systemic Disease ”

 (beberapa dokumentasi hasil keringat dalam publikasi ilmiah....)
Saya dan Poster... cukup mesra bukan? hahhaa

Buku Naskah Publikasi

 Paper saya di daftar isi....

 Halaman 331 dari buku Naskah

Lumayan... symposium dapat ilmu-ilmu baru dan sertifikat 8 SKP IDI. Sayangnya saya belom dokter... hahaha

 Dapat semangat, selamat, motivasi, hadiah, dan sertifikat best poster

 Sebagian hasil mulung... hahaha. bukan dink... hasil keliling ke stand farmasi. Dapat notes banyak... pena/penlight belasan... dapat tas punggung,... boneka,... makan gratis,... tas jinjing... tas laptop dan tas seperti foto di atas malah dapat 2 buah karena masuk 100 re-registrasi pertama. 

Banyak lah yang bisa di bawa pulang... :) 

TARGET SELANJUTNYA
(ada Deh...... hahahhaa)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by phii | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code