Rabu, 21 Desember 2011

Prof. dr. R.M. Padmosantjojo : Ahli Bedah Syaraf yang Menginspirasi

Melihat sosok tinggi besar dengan rambut gondrongnya, orang bisa salah mengira ia seniman. Siapa sangka dialah dokter bedah syaraf yang pernah menggemparkan dunia kedokteran dengan operasi kembar siam dempet kepala. Seunik penampilannya, unik pula pribadi dokter yang ogah menarik bayaran dari pasiennya itu.

Matahari belum terlalu tinggi, panasnya di tahun 1970-an pun belum semenyengat akhir-akhir ini. Sebuah bus kota yang melaju kencang tiba-tiba berhenti di sudut Bundaran HI yang menuju arah Jln. Diponegoro, Jakarta Pusat. Satu penumpang pria sigap meloncat turun dan tergopoh-gopoh mengampiri lelaki bertubuh tinggi besar yang menanti di halte dekat sudut jalan.


“Dokter lupa sama saya, ya?” tanya si penumpang. “Dulu saya pernah lumpuh, lalu dioperasi Pak Dokter. Tapi belum sampai pulih, dokter sudah terbang ke Belanda. Lihat sekarang, tak cuma berjalan, lari pun saya bisa,” kenang Prof. dr. R.M. Padmosantjojo (62), ahli bedah syaraf dari RSUPN Cipto Mangunkusumo. Saat itu ia memilih naik bus umum karena sepulang dari Belanda tahun 1970 ia sempat tidak mendapat gaji selama setahun.
“Pengalaman seperti itu sering saya alami. Saya terharu …,” ujarnya sambil mengingat sejumlah pasien dari golongan bawah yang terkadang mengiriminya pisang, pepaya hasil kebun sendiri, atau kue jajanan sederhana sebagai tanda terima kasih. Ujud lain tercermin saat begitu banyak mantan pasien yang menjenguk usai ia menjalani bedah jantung koroner tahun 1980.
Awal tahun 1970-an, sepulang dari Belanda, dia satu-satunya ahli bedah syaraf yang aktif memenuhi panggilan di berbagai rumah sakit di wilayah RI. Tambahan lagi ia tidak memungut biaya operasi di berbagai RS pemerintah. Tidak heran bila jumlah pasien yang berhasil ditangani tidak terhitung jumlahnya.
Kini, menurut Padmo, ahli bedah syaraf sudah 64 orang. “Tentu mereka tidak bisa disamakan dengan saya yang suka kasih gratis. Idealisme saya mungkin saja dianggap aneh. Sudah tidak praktik, tidak terima duit, mana ada!” ujar dokter yang merasa bahagia bila berhasil menolong orang.
Alasannya, tak tega menagih. Ia sering menemui pasien yang kehabisan uang, malah ada pula yang terlilit utang, dalam masa pengobatan pascaoperasi. “Masa penyembuhan pasien bedah syaraf, apalagi tumor otak atau stroke berat, cukup lama. Setelah operasi masih butuh pengobatan lain yang tidak sedikit biayanya,” ujarnya sambil menyayangkan belum adanya kesadaran masyarakat ikut asuransi kesehatan.
Ahli bedah syaraf lulusan Rijksuniversiteit, Groningen, Belanda (1970) itu, beroleh gelar profesor setelah tahun 1987 berhasil memisahkan kembar siam dempet kepala (craniopagus), Yuliana – Yuliani (saat itu berusia dua bulan 21 hari), asal Riau.
Hasil pembedahan ini sempat menggegerkan kalangan dunia kedokteran bedah internasional. “Soalnya, ada kasus sama di Jerman. Bayi kemudian dibawa ke AS, tapi malah meninggal karena pembedahan harus menunggu sampai usia 13 bulan.” Kasus di Afrika Selatan pun tak berhasil. Jadi, kalau membedah, ya, semenjak kecil sekalian.
Ketenarannya bertambah ketika stasiun televisi di Eropa dan Kanada menayangkan keberhasilannya. Hingga kini Padmo yang dipanggil Pak De oleh kedua anak kembar siam itu masih berhubungan. Ia pun tetap membantu biaya si kembar Ana dan Ani. “Mereka sudah SMP,” katanya bangga.
Padmo demikian dielu-elukan di negeri orang, tapi kenapa ia tetap pulang? “Aku cinta bangsaku,” katanya. Pernah diminta kembali ke universitasnya pun ia tidak mau. “Bangsaku membutuhkan tenagaku, apalagi saat itu keahlian ini masih langka”.
Cepat bertindak
Mengapa ia memilih bidang rumit ini? “Banyak tantangannya, ” aku pria kelahiran Kediri, 26 Februari 1938 ini. Lulus dari Fakultas Kedokteran UI (FKUI) tahun 1963, ia memperdalam spesialisasi penyakit syaraf. Setelah beberapa tahun menjadi asisten Prof. Mahar Mardjono (ahli penyakit syaraf) dan ujian bedahnya berhasil dengan baik, ia disarankan mengambil keahlian bedah syaraf. “Karena ahlinya jarang, saya sedikit saingan. Selain itu, bekerjanya lebih leluasa.”
Alasan lain, “Agar penanganan kelainan syaraf bisa komplet dan tuntas,” tambahnya. Jadi, bisa disatu-atapkan karena dokter ahli syaraf dan dokter ahli bedah syaraf biasanya orang yang berbeda.
Menjadi tukang bongkar otak alias ahli bedah syaraf, menurut Padmo, sangat mengasyikkan meski mensyaratkan ketelitian ekstra. Sebelum membongkar, harus diketahui benar apa penyakit dan penyebabnya, serta tepat dalam mendiagnosis. Selain itu, ia harus menguasai peta otak, yang lebih rumit daripada peta dunia.
Lalu, harus dipikirkan pula bagian mana yang perlu dibuka. “Otak tidak boleh dibuka semuanya blak, nanti bisa enggak karuan,” katanya mengingatkan fungsi luhur yang berpusat di otak.
“Saya bersyukur dianugerahi oleh Yang Mahakuasa ingatan yang kuat dan keterampilan mengatasi hal yang rumit ini,” tutur Padmo. Apa karena itu ia disebut dokter bertangan dingin? “Mungkin karena saya bisa cepat membuat analisis dan bertindak cepat.” Namun, Padmo tidak jumawa dengan tangan dinginnya itu.
Sebelum mencapai masa pensiun pada usia 70 tahun nanti, kini Prof. Padmo sudah mulai merintis penggantinya sebagai kepala bagian bedah syaraf. “Saya tidak mau seperti pemain wayang orang, sekali sampai tua terus berperan jadi Gatotkaca,” akunya sambil terus terang merasa belum menemukan yang pas. Satu syarat yang sulit terpenuhi adalah belum ada yang mau berdedikasi penuh. “Dulu saya bisa tiga hari tidak tidur dan tidak pulang karena belum puas dengan hasil kerja. Sekarang mana ada dokter yang begitu, karena mereka mesti cari duit!”
Indonesia perlu medical council
Tentu saja Padmo prihatin dengan pendapat, dokter sekarang cenderung mencari uang. “Dokter adalah tenaga sosial dengan tugas kemanusiaan. Seharusnya dokter digaji cukup hingga bisa berdedikasi penuh. Dengan demikian, ia tidak perlu ‘nyeleweng’ atau ditangisi di rumah karena asap dapurnya tidak ngebul.”
Celakanya, di Indonesia dokter punya image yang telanjur tinggi. Dokter dituntut berpenampilan OK, punya rumah dan mobil sendiri. “Coba apa kata orang kalau dokter setiap hari berdesakan di bus atau jalan kaki dengan pakaian kumal, apa Anda akan percaya padanya? Saya yang berambut gondrong pun pernah diprotes. Ada orang ingin bertemu saya, tapi enggak percaya kalau saya si dokter yang dimaksud. Pernah juga saya diusir, ‘Eh, mau cari siapa, Pak?’ Ketika saya jelaskan bahwa saya dokter, mereka kaget.”
Guru besar FKUI ini mencoba membandingkan sistem penggajian di negara maju, misalnya Belanda. Penduduk harus mengikuti asuransi kesehatan, sehingga pengobatan yang mahal pun bisa dibantu. Perusahaan asuransilah yang kemudian menyusun peraturan standar gaji dokter berdasarkan kualifikasi, lamanya pendidikan, lamanya bekerja, tanggung jawab yang dipikul. Dengan standar gaji yang tinggi, dokter hanya memikirkan profesinya, tak perlu memikirkan dari mana ia mesti hidup. Dokter yang bergaji sudah bagus tapi masih “nyeleweng” tentu akan lebih mudah dituntut.
Di negara maju urusan dokter dan rumah sakit ditangani oleh lembaga independen yaitu medical council. Lembaga ini mengontrol kualitas dan perilaku para dokter dan RS demi perlindungan hak konsumen. Misalnya, menguji kemampuan dokter yang berusia 70 tahun, apakah masih bisa dipakai atau tidak.
Mereka juga menentukan peraturan dan daftar tarif yang jelas sesuai keahlian dokter. Alhasil, pasien bisa memperkirakan berapa dana yang diperlukan untuk pembedahan X, lalu menyiapkannya. Maka tak ada lagi dokter yang berkata, “Kalau enggak sanggup bayar, cari dokter lain saja!”
Ini akan mencegah pelanggaran etika kedokteran. “Tak ada lagi dokter yang mengutamakan kelompok tertentu,” tuturnya.
Sayang, dokter Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan gaji dari pemerintah. “Akhirnya muncul fenomena dokter praktik di sana-sini atau pasang tarif tinggi. Ini bisa dimengerti, kalau tidak, bagaimana mereka bisa hidup layak?”
Melihat kondisi itu, ia tidak pernah menuntut anak buah bekerja hanya berdasar lamanya jam kerja. “Yang utama, tanggung jawab atas tugas yang saya berikan harus selesai tepat pada waktunya dan rapi,” tutur suami Thea Tarek, yang dinikahinya 29 tahun lalu.
Jangan tergantung pada harta
Cukup mengherankan rasa pengertian bisa muncul dari diri Padmo yang mengaku selama ini selalu hidup cukup, yang antara lain berkat peninggalan orang tuanya. Anak ke-13 dari 17 bersaudara ini memang berasal dari keluarga mampu. Ayahnya pegawai tinggi jawatan kereta api zaman Belanda. “Zaman itu orang pribumi berpangkat tinggi dan punya bawahan orang Belanda, ya, seperti bapak saya itu,” ceritanya. Sebab, ayah dari ibunya keturunan Kasunanan dan Mangkunegaran.
Saat itu anak-anaknya diperbolehkan masuk sekolah Belanda (Europese Lagere School), SD khusus untuk orang Eropa. Dari situ boleh melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) yang cuma ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang. Orang pribumi paling cuma bisa sekolah “Ongko Loro”. Jadi dokter pun, bisanya dokter Jawa lulusan NIAS.
Tentang keluarga besarnya, ia bercerita, ayah-ibunya hidup disiplin. Contohnya, setiap anak dari yang paling tua sampai yang terkecil mempunyai tugas masing-masing sesuai umur. Malam sebelum tidur semua harus menyemir sepatu untuk persiapan esok. Pagi pukul 05.00, ibunya membangunkan semua anak untuk mengerjakan tugas masing-masing seperti menyapu, merapikan tempat tidur, dll. Yang menarik, saat terima rapor, semua rapor dibuka dan dijejerkan. Kalau ada angka yang kurang memuaskan hanya ditanya apa sebabnya, tapi tidak kena marah. Tiap liburan mereka boleh pilih ingin pergi ke mana, tinggal naik kereta api gratis.
Orang tuanya memang sangat mementingkan pendidikan yang tinggi bagi semua anaknya. “Bapak tidak pernah mengungkapkan bahwa ekonominya kuat. Pada anaknya, ia hanya menekankan, ilmu lebih penting daripada harta. Harta sekejap bisa sirna, tapi ilmu tidak. Jadi, jangan sekali-kali terikat pada harta. Petuah itu terus saya pegang hingga kini.”
Itukah yang menyebabkan kenapa Prof. Padmo tidak pernah praktik di luar? “Ya, karena saya pikir, hidup saya sudah cukup dan saya lebih baik konsentrasi ke pekerjaan saja. Apalagi sekarang saya sudah di atas 60 tahun, cari apa lagi?” tegasnya.
Nikmatnya keroncongan
“Cari apa lagi?” memang tidak mudah dijawab. Apalagi dengan menganut teori aktualisasi diri tokoh psikologi Maslow, setelah berkarya sebagai dokter selama 37 tahun, Prof. Padmosantjojo kini merasa, kebutuhan utama sudah tercapai. “Semua yang saya inginkan sudah tercapai. Saya tak perlu kerja mati-matian seperti dulu. Pangkat profesor sudah saya capai.”
Maka, sebagian pun dipakai untuk menikmati hidup lewat hobinya: melukis, menyanyi, bermain musik, dansa, membaca buku-buku sejarah, dan merawat tanaman.
Hobi melukis yang sudah terbit sejak kanak-kanak, mulai aktif ditekuninya lagi tahun 1997. “Saya cukup belajar sendiri dari berbagai buku melukis,” katanya sambil mengaku bisa tahan menggores cat minyak di lembar kanvas sampai pukul 01.00 pagi.
Tidak kalah getol hobi berdansa, seperti Tango, Waltz, Chachacha, Rumba, Quick Step, dll. Ini semua dipelajari saat ia di Belanda. “Di sana ahli bedah syaraf dianggap elite, jadi harus bisa mengikuti kehidupan kaum elite. Kebetulan istri saya orang Manado, jadi juga senang dansa,” tambahnya.
Menyinggung soal tanaman, ia memang pernah bercita-cita meneruskan ke Fakultas Pertanian, tapi kemudian masuk kedokteran karena keinginan sang ayah. Saat berkunjung ke luar negeri, ke negara mana pun, ia selalu menyempatkan diri mengunjungi Botanical Garden untuk mempelajari aneka macam tanaman. “Saya iri menyaksikan begitu pandainya orang Eropa mengatur tanaman. Masak kembang telekan di sebuah bekas istana di Swedia bisa disusun begitu indah, berwarna-warni? Kenapa kita ndak bisa?”
Kesenangan ini ia salurkan saat menata rumahnya yang tidak terkesan mewah di kawasan Kemang, Jakarta. Kebun belakangnya asri dengan pelbagai tanaman hias kesukaannya ditambah sumur “jolotundo” buatan sendiri dengan ember digantung yang terus dialiri air, menambah adem suasana.
Selain ketiga hobi itu, ia juga penikmat musik Jawa, keroncong, serta klasik. Bila ada kesempatan, dua minggu sekali orkes keroncongnya main di fakultas dengan penonton para dokter. Sedangkan di rumahnya sebulan sekali ada acara kumpul-kumpul berlatih dan menikmati keroncong. Saat ia membedah pasien pun di kamar bedahnya selalu diiringi lagu langgam Jawa atau keroncong. “Dalam kenyataan, saat operasi berjalan saya ndak mendengar musik itu. Begitu operasi berhasil, telinga serasa plong. Musik mengalir, saya pun jadi rileks,” ujarnya.
Kegemaran lainnya, ia betah menonton wayang kulit sampai ngebyar semalam suntuk. Dari sekian banyak tokoh pewayangan, justru Semar yang berpenampilan jelek yang menjadi idolanya. Alasannya, “Semar itu bijaksana, suka menolong, tidak pernah berbohong, tidak banyak bicara, tidak suka umuk (sok – Red) tapi selalu eling (tahu diri),” tuturnya sambil tersenyum nggleges membayangkan idolanya yang punya senjata andal kentut maut. Tak aneh bila kemudian ia memasang entah gambar atau patung Semar dalam berbagai ukuran di rumahnya.
Bagaimana dengan Napoleon, yang gambarnya tergantung di ruang kerjanya? “Kelebihan Napoleon adalah dalam soal konsisten dan betapa sistematis cara kerjanya.”
Sedikitnya penguasa Prancis itu mengilhaminya untuk menyusun buku prosedur baku untuk setiap penyakit yang perlu ditangani oleh ahli bedah syaraf. Dalam buku itu akan tercantum mulai dari cara memeriksa, cara mengoperasi, bagaimana menanganinya, apa saja yang dibutuhkan, serta diagnosisnya. “Ini untuk melengkapi yang ada sekarang yang cuma berisi gejala penyakit dan cara penanggulangannya, ” katanya. Filosofi Padmo adalah mencari akar masalah penyakit, bukan hanya mengobati gejalanya. Saat menolong, apa saja yang dibutuhkan, dan selesai menolong, apa lagi yang bisa dilakukan.
Toh Napoleon bukan idolanya, “Ia punya banyak kekurangan,” tutur ayah satu putri, Mutiara, yang psikolog.
Dokter yang tiap hari olahraga lari sejauh 3 – 5 km mengaku tidak punya tokoh idola lain dari mana pun. “Jagoan saya tetap bapaknya para punakawan, Semar,” tuturnya sambil tersenyum lebar. Wah, benar-benar Semar alias eseme jembar (senyumnya lebar)


sumber: http://icanxkecil.wordpress.com/2008/03/02/padmosantjojo-si-tukang-bongkar-pasang-otak/ 

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by phii | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code