Selasa, 10 Januari 2012

GELAK TAWA DOKTER PTT KEPRI

oleh: dr. Dobi Saputra Burni
 
        Selain kisah menegangkan, banyak kisah lucu dan menyenangkan  terjadi. Di Desa Mentuda  ini, ketika melakukan sunat (khitan) hanya satu tekhnik yang bisa saya lakukan yaitu teknik “pancung”, kenapa?. Karena, adatnya saat memotong ujung kulit “penis” dilakukan bersamaan dengan memotong kepala ayam. Jadi jika saya melakukan teknik yang diajarkan Prof dr.Roni Saleh SpB SpBp dengan memisahkan dulu kulit-mukosa, lalu di “incisi” perlahan untuk menghindari pembuluh darah, wah “kasian tu ayam mati kesakitan karena motongnya kelamaan, wkwkwk”. Di sini paling asyik menghabiskan hari minggu dengan memancing di sungai, kenapa?. Karena, masyarakat di sini terbiasa memakan ikan laut, jadi aneh lidahnya memakan ikan tawar “geli, katanya”. Selain sungai dan hutannya yang masih asri, ikannya pun besar-besar dan “rakus” bahkan joran saya beberapa kali patah. Alhasil minimal 1 ember hitam besar ikan saya dapat ,seperti ikan wader, palau, gabus, lele (orang sini bilang gabus=bujuk, lele=keli). Karena tidak habis saya memakan semua ikan saya bagikan ke tetangga, lucunya mereka pada menolak  katanya ”kami tak ndak pak ye, ikan sungai macem rase tanah” ….Ha2 “kaya mereka pernah makan tanah aja”.          
                Ada lagi ritual jaga kampung yang dilakukan malam 10 muharam, ada tetua sini namanya “atuk mbang” yang melakukannya. O ya “atuk mbang” itu seorang wanita tua berumur 120 th, matanya buta. Namun masyarakat yakin, dia tahu semua yang dikerjakan warga Mentuda. Makanya, pertama saya kesini diajak dulu menghadap atuk mbang. Ha2 pasti kesannya mistis deh, tapi ini kisah lucunya, saat ritual atuk mbang memanggil roh leluhur, saat kerasukan ia minta rokok, lalu diberikan rokok bermerek “Laris Manis (LM)” tapi dia menolak dan meminta rokok “Dji Sam Soe” busyet dah!! ternyata “Dji Sam Soe” NgeTOP BGT ampe dunia gaib..wkwk.
                Ada pula kepercayaan, jika telah mandi sungai mentuda, maka orang tersebut akan menjadi warga sini. Jika saya teliti memang banyak orang luar yang menikah di sini, kebanyakan mereka adalah parah pelaku perambah kayu ilegal, jelas saja karena banyak kayu kelas I jenis ulin (masyarakat sini menyebutnya  kayu kapur), lalu kelas II jenis meranti seperti seraya yang terjual dengan harga tinggi dijual ke Singapura dan Malaysia. Beberapa orang dahulu bekerja sebagai penyadap Gaharu, yang getahnya di ekspor ke Arab Saudi sebagai minyak wangi. Tapi paling menyedihkan beberapan PNS guru dan tenaga kesehatan  yang berasal dari kota menikah di sini, katanya ada beberapa yang terjebak dengan rayuan gadis-gadis kampung dan keluarganya, mereka baik sekali memperlakukan kita bagai anaknya bahkan “membukakan pintu kamar anak gadisnya untuk kita”  lalu ujung-ujungnya kejebak dan dipaksa menikah sama anaknya. Selain komunikasi yang terbatas dengan orang terkasih menjadi salah satu faktornya. Maaf, mengapa saya harus ambil contoh guru dan paramedis, karena dua profesi itu menjadi pionir masuk ke daerah terpencil. Patut berbangga jika Anda bekerja dalam profesi itu….he2…Tetapi yang jelas saya belum pernah mandi Sungai Mentuda dan pandai-pandailah kita menjaga jarak dengan orang yang terlalu baik dengan kita, bukan “paranoid’ tapi waspada….he2
                Kali ini tentang kisah suku laut, ketika saya mengajak masyarakat untuk buang air di jamban, lalu salah seorang ibu berteriak ”Pak kalo kami berak di darat, taiknya ngumpul , geli kami pak, kalo di laut kelak ilang dibawa ombak”…ha2. Masih seputar jamban ketika saya tengah lapar melihat santapan undang galah, kepiting, gonggong (ni makanan khas Kepri jenis kerang yang cuma ada disini), ikan selikur. Tiba-tiba selera makan hilang, ketika melihat rumah sebelah ada yang lagi buang hajat dan kotorannya jatuh ke laut dan berenang di lautan…..wkwkwk

                Ini kisah lucu terakahir, setelah baru selesai makan ada beberapa orang suku laut dari Dusun Tembok, menghadap, “Pak dok, kami nak jemput pak dok, kaki ibu kami tak bisa gerak abis jatuh semalam (o ya semalam itu artinya kemarin). Teramat berat bagi saya bukan malas tapi Bulan Desember merupakan puncak angin barat, semua nelayan ogah melaut karena badai besar sekali ditambah hujan lebat bahkan sehari sebelumnya ada kapal karam dan saya lihat langit tengah hitam”. Tiba-tiba melihat saya terdiam, seorang ibu menangis memohon tolong untuk ke sana. Saya tak kuasa melihat tangis itu, dan saya pun berangkat dengan pompong kecilnya, Alhasil tak berapa lama baju saya sudah basah terkena deburan ombak yang kuat dan jantung pun berdebar melihat air laut yang mulai masuk pompon, lalu posisi siaga I untuk berenang jika kapal karam, dalam hati saya berdoa “Ya Allah Tenangkanlah gelombang MU, jangan turunkan hujanMU”.....Alhamdullilah hujan pun tak turun dan gelombang pun mulai bersahabat….wah jadi menegangkan bukan lucu, ok deh ni kisah lucunya. Setiba saya di rumah itu saya lihat seorang nenek tua, dengan posisi tungkai bawah flexi (dalam benak saya cidera tulang belakang ni), lalu anamnesis singkat untuk tahu kronologisnya. Waktu itu pukul  22.30 waktu Indonesia bagian Tembok,  karena di Tembok hanya ada 2 rumah yang punya TV, maka masyarakat menonton bersama di salah satu rumah warga, o ya rumah di Tembok bukan di darat tapi di atas laut, kan namanya suku laut wkwk. Karena di dalam rumah penuh, sang nenek dan 6 orang lainnya menonton di luar pelantaran. Tengah asyik menonton drama Bandawa di chanel ikan terbang tiba-tiba pelantaran tua itupun ambruk alhasil 6 orang terjatuh ke bawah setinggi 2 meter dan naasnya saat itu air sedang surut jadi tubuh langsung membentur tanah. Ditambah tulang yang sudah osteoporosis menambah parah cideranya. Oleh karena itu saya sarankan jangan menonton Bandawa karena bisa membawa maut…wkwkwkw….TERIMA KASIH BANGET, TERTAWALAH SEBELUM TERTAWA ITU DILARANG!!!!


0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by phii | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code