Selasa, 24 Januari 2012

Mari tinggalkan Kondisi Ideal, campakkan Idealisme

Hanya itu yang saya pikirkan sejak pagi hari ini (24 Januari 2012), Saya mencoba meredefinisikan kondisi ideal dan idealisme. Berbekal sedikit ilmu, saya mencoba merenungi satu kasus yang akan saya hadapi.

Dalam seminggu ke depan saya akan pulang ke Bengkulu dan melanjutkan liburan, Saya sudah senang-senang saja, tapi tiba-tiba saya teringat bahwa tanggal 7 saya harus bayar uang cucian sebesar Rp 80.000. Kemudian saya berpikir,,, saya kan libur kurang lebih sebulan, apakah saya musti bayar? *jiwa anak kos keluar.

Idealnya, saya ga bayar. Karena saya kan ga nyuci baju dll. Kalau saya menetapkan idealisme sebagai patokan mewujudkan kondisi ideal, Jadi kita anggap satu bulan itu saya ga nyuci dulu. Bibinya ga nyuci, saya ga bayar. *menghemat.

Tapi, serasa ada yang mengganjal....
Munculah sebuah pertanyaan baru, terus bibinya gimana? kami yang ngekos bertiga ga bayar, artinya bulan depan si bibi kehilangan pemasukan Rp 250.000. Mungkin bagi anda yang membaca ini, jumlah segitu tidaklah seberapa, tentu berbeda dengan si bibi, sejumlah uang tersebut sangat berarti. Akhirnya, Saya akan usahakan untuk membayar uang cucian, walaupun bibi tidak mencuci pakaian saya selama sebulan.

Kalau saya menuruti kondisi "IDEAL", sebenarnya saya tidak salah alias benar/ sah-sah saja. Tetapi, hati kecil saya berontak, ada yang tidak beres dengan kondisi ideal ini, sehingga saya memutuskan pilihan yang lain. Pilihan yang sayapun bingung menyebutnya bagaimana. Pilihan yang sebenarnya lebih tinggi daripada kondisi. Pilihan dimana kita bisa berbuat BENAR atau BAIK. Pilihan yang diberikan tuhan, sebagai pintu pahala bagi kaumnya. Tentu pilihan kedua ini adalah pilihan yang Baik.

Hingga akhirnya, saya menemukan istilah yang cocok bagi pilihan ini, Kondisi "MADANI". yaaa!!! MADANI, suatu kondisi yang beradab dengan landasannya adalah wahyu Allah SWT, Al Qur'an dan Hadits. Lebih tepat rasanya ketimbang Kondisi Ideal yang hanya sebatas pemikiran manusia. ^^. Sekarang, sedapat mungkin Saya meninggalkan kondisi ideal, dan merubahnya menjadi tingkatan yang lebih tinggi, kondisi madani.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah saw lalu bertanya, “Ya Rasulullah, sedekah manakah yang lebih besar pahalanya? Rasulullah saw menjawab, “Bersedekah dalam keadaan sehat sedang engkau amat sayang kepada harta tersebut, takut miskin dan mengharapkan kekayaan. Oleh sebab itu jangan menunda-nunda sehingga apabila ruh (nyawa) sudah sampai di tenggorokan (hampir mati) lalu engkau berwasiat untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian.” (Bukhari – Muslim)

Dalam kasus saya, Hadits di atas memandu saya mewujudkan kondisi "madani". Sulit memang mewujudkan kondisi madani, lebih sulit lagi bila hanya dirasakan yang susah-susahnya saja, tetapi tentu jalan ini lebih di cintai Allah SWT. Bukankah disetiap kesulitan yang dicintai Allah SWT akan muncul jutaan kemudahan dan ridhoNya. Itulah yang kita cari.

menuju pemikiran madani dan kondisi madani, campakkan kondisi ideal di belakang!!

Sedikit bukti bahwa idealisme hanyalah pemikiran manusia:
Silakan Search Idealisme di Google, maka akan muncul di wikipedia seperti berikut:

Idealime adalah sebuah istilah yang digunakan pertama kali dalam dunia filsafat oleh Leibniz pada awal abad 18.[1] ia menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya memperlawankan dengan materialisme Epikuros.[1] Istilah Idealisme adalah aliran filsafat yang memandang yang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas.[1] Dari abad 17 sampai permulaan abad 20 istilah ini banyak dipakai dalam pengklarifikasian filsafat.[1]

epistemologi

Idealisme berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam jiwa (Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik.[1] Realitas sendiri dijelaskan dengan gejala-gejala psikis, roh, pikiran, diri, pikiran mutlak, bukan berkenaan dengan materi.[1]

Wallahualam bi shawab




1 komentar:

Anonim mengatakan...

masih mikir buat uang cucian ya bang...., kalau saya masih belum dapat menggaji orang lain baru mampu menggaji diri sendiri untuk hal kebutuhan sendiri, termasuk masalah cucian jadi kalau dihitung-hitung dengan biaya cucian bang Franz sebulan cukup bagi saya untuk biaya cucian saya selama setahun, he..he.. waktu adalah uang, alhamdulillah, rizki tak lari ke mana, dari SD saya sudah mulai sudah diajari bagaimana jerih payah mencari uang, sejak SMP saya sudah merasakan gaji pertama dari hasil keringat saya sendiri, sudah bebas spp pesantren upah keringat bisa untuk biaya les bahasa inggris waktu itu, dan mulai sejak itu pula saya sudah pengiritan, mengingat lagi bangku sekolah migran di kota pahlawan dan pendidikan karakter lebih banyak di kota kelahiran, semuanya benar-benar diperhitungkan, prinsipnya meskipun belum mampu menggaji orang lain minimal mampu menggaji diri sendiri sehingga tidak menyusahkan orang lain, terutama orang tua. nah, sekarang sudah di perantauan, kota bunga, betapa galaunya waktu awal itu untuk mengkompensasi kebutuhan yang tak terbatas namun untuk memenuhinya masih dengan keterbatasan. Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih dapat merasakan nikmatnya berkah Ilahi. di saat teman yang lain istirahat selesai kuliah, saya masih ada aktivitas A, B, dst... di saat teman yang lain terlelap tidur, saya masih melakukan aktivitas A1, B1, dst... semua ada kompensasinya untuk mewujudkan kondisi yang MADANI, yeach... dari individu madani menuju masyarakat madani. tanpa mengesampingkan idealisme, secara tidak langsung kita tetap ideal, yeach... idealnya untuk berbagi, memberi ruang nurani untuk idealis. di saat rizki berlebih, tak lupa beramal. senyumpun adalah ibadah, sekecil apapun amal kita akan diperhitungkan nantinya. seideal apapun kita, yang dapat kita bawa adalah ilmu yang bermanfaat, amal jariyah, dan anak sholeh/ah ketika menghadap Ilahi.

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by phii | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code